Jumat, 06 Agustus 2010

Ndut Fuad dan Tabungan Energi




Memang, tak ada habis-habisnya energi, pun kesenangan yang didapat, kala kita mengurus anak, memikirkan apa yang terbaik buat mereka, menceritakan kepada orang lain tentang tingkah polah mereka, dan bisa jadi sampai maut memisahkan kita, ada saja yang keluar pengalaman dalam bentuk tulisan ketika mengurus anak, cucu,cicit, dan anak keturunan kita. Kali ini dan bagiku, jadilah Ndut Fuad sebagai inspirator untuk bercerita.

Cerita kita ini yang kemarin adalah sejarah buatnya. Sementara saat ini, ia merupakan kekinian kesekarangan. Besok adalah misteri bagi kita dan anak kita. So, yesterday is history, present is present, and tomorrow is mistery.

Ada kaedah dalam kehidupan ini yang wajib kita fahami. Menurut Hukum Kekekalan Energi (HKE): Apa yang diusahakan adalah apa yang akan didapat. Sementara Jumlah Usaha (JU) = Hasil Usaha (HU).

Hasil Usaha (HU) itu bisa langsung kita rasakan, dan bisa juga tak langsung bisa kita nikmati. HU tak langsung itu = tabungan energi (TE). TE bisa positif bisa negatif (+ / -).
TE akan sangat tergantung pada bentuk energi pada saat dikeluarkan atau saat berusaha dilakukan. Harus diingat bahwa TE tak akan tertukar dengan orang lain.

Salah satu TE positif adalah ketika kita mendidik anak agar jadi anak sholeh. Katakanlah ketika kita memasukkannya ke pesantren (seperti Ndut Fuad, dan itu TE yang saya harapkan), lalu ia bisa sholat tepat waktu, di sana dia diajarkan gemar berinfak /shodaqoh, ringan tangan membantu orang yang sedang kesulitan, dan banyak lagi perbuatan positif lainnya.

Contoh TE negative adalah korupsi, gemar marah pada orang, meninggalkan sholat dengan sengaja, malas bekerja, dan aneka perbuatan tak terpuji lainnya.

Pencairan TE negative, misalnya, adalah saat kita tiba-tiba sakit, HP hilang, kecopetan, dan peristiwa musibah lainnya. Pencairan TE positif, misalnya, adalah saat kita tiba-tiba dapat rezeki, senantiasa sehat, punya anak-anak yang sholeh /sholehah, isteri sholehah, dan hal lain yang membuat kita bisa tersenyum gembira dan bahagia.

TE positif cair biasanya ada dalam bentuk: 4 TA = harta, tahta, kata, dan cinta. Sementara TE negative = banyak hutang, tak disenangi orang banyak, selalu menjadi bahan perbincangan yang negatif, atau musibah tak terduga.

Kalau kita ingin hidup untung dan menjadi bahagia, maka perbanyaklah TE positif dengan rumus Epos = energi positif, dan hindari dengan sekuat tenaga TE negatif, Inilah yang akan kita peroleh: Sukses dan hidup mulia.

Sukses dan hidup mulia menghendaki kita harus memiliki Expert, Aset dan Epos. Expert (ahli dan mumpuni) di bidangnya, Aset (memiliki fisik prima, cerdas, dan berhati ikhlas), serta Epos (daya juang hidup yang dapat dilakukan dengan memperbanyak energi positif). Semoga Allah SWT menjadikan Ndut Fuad bisa sebagai Tabungan Energi buatku dan istri. Amin.

Dzikir(ullaah)





Dzikir berarti mengingat. Dalam arti khas, ia adalah cara dan sarana mengingat Allah SWT (dzikrullah). Dzikrullah dilakukan dengan lisan, hati dan perbuatan. Orang yang mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”, berarti dia telah berdzikir secara lisan. Kalau dia mengerti artinya dan meyakininya sepenuhnya dalam hati, maka hatinya telah berdzikir. Kemudian jika perbuatannya sesuai dengan apa yang diucapkan dan diyakininya, maka dia telah sempurna dalam berdzikir. Karena itu, orang yang berdzikir adalah orang yang selalu taat dan menjauhi segala maksiat. Inilah mengapa berdzikir kepada Allah adalah termasuk amalan terbaik.

Dari Abu Darda Ra, Rasulullah Saw bersabda :

“Maukah kalian, kuceriterakan amalan yang terbaik di sisi Tuhanmu, dan kedudukannya sangat luhur, dan bagimu lebih utama dibandingkan dengan menginfakkan emas-perak, dan lebih unggul dibandingkan dengan jihad melawan musuh sehingga kau tewas di tengah pertempuran?” Jawab mereka : “Baik ya Rasul”. Lalu beliau Saw bersabda : “Ia adalah dzikir kepada Allah” (HR. Turmudzi).

Orang yang tidak mau berdzikir adalah orang hina, bak hidup dengan bangkai. “Orang yang selalu berdzikir kepada Allah dibandingkan dengan orang dungu yang enggan mengingatNya, diumpamakan seperti manusia yang hidup dengan bangkai” (HR. Bukhari).

Sementara orang yang berdzikir akan mudah mendapatkan pertolongan dan selalu diingat oleh Allah SWT: “Maka ingatlah padaKu (Allah), pasti Akupun ingat kepadamu" (QS. Al Baqarah: 152).

Harta




Hadits ini dikumpulkan oleh Imam Al Bukhari pada bab “Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang shaleh”.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَلِىٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ يَقُولُ بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى ». فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ « إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ « يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ »

Telah menceritakan kepada kami, Abdurrahman; telah menceritakan kepada kami, Musa bin Ali dari Bapaknya yang ia berkata, saya mendengar Amru bin Ash berkata:

"Rasulullah Saw mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, "Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku (aku di sini adalah Nabi Saw).

"Akupun menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Ketika itu beliau memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda:

“Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkan, memberikanmu ghanimah dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik".

Namun aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta. Saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa selalu bersama Rasulullah Saw”. Maka beliau bersabda:

"Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih" (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)


Kandungan Hadits

1. Orang Shaleh


Mereka ini adalah orang-orang yang memperhatikan dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia.

2. Harta yang Baik

Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat serta cerdas mengelolanya. Hanya hamba shalehlah yang mengerti kedua maslahat ini.

Berzakat, gemar berinfak, dan pandai memilih tempat yang baik untuk menyalurkan harta tersebut. Sungguh tidak tepat jika harta tersebut disalurkan pada pengemis jalanan yang kesehariannya meninggalkan shalat. Yang ini tentu saja jauh dari kesholihan.

3. Penggunaan Harta

Harta digunakan di jalan kebaikan. Melupakan kewajiban menyebabkan harta jadi hilang barokah dan kebaikan di dalamnya. Nabi Saw bersabda,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokahnya. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88).

Sudah sepantasnya harta disalurkan kepada hal-hal yang wajib, misalnya menafkahi keluarga, menunaikan zakat jika telah mencapai nishabnya. Setelah itu barulah disalurkan pada hal-hal lain yang bermanfaat.

4. Peruntukkan Penggunaan Harta

Dibolehkan seseorang mengumpulkan harta yang kemudian digunakan untuk menunaikan kewajiban yang dibebankan pada dirinya. Beban yang dimaksud adalah, misalnya, menafkahi keluarga, berzakat, membayar hutang, dan lain-lain. Selain itu, ia juga menunaikan hal-hal yang tidak wajib, misalnya bersedekah, membantu kesusahan orang lain, dan lain-lain.

5. Boleh Kaya Asal …..

Tidak ada larangan seseorang itu kaya, asalkan bertakwa dan memiliki sifat qana’ah (menerima apa yang diberikan Allah SWT). Nabi Saw bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa kaya bagi orang yang bertakwa. Badan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Ketahuilah bahwa rasa bahagia itu adalag bagian dari kenikmatan hidup” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kata Al Baihaqi, “Tidak mengapa seseorang itu kaya, asalkan ia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan ia menyalurkan hak tadi serta menempatkannya pada tempat yang benar”.

Kaya harta tidaklah tercela. Namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah SWT beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah Saw bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang masuk Islam; diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya” (HR. Muslim no. 1054).

Tipe Manusia




Allah SWT banyak menggunakan metafora dalam Al Quran. Lihatlah ungkapan: Kehidupan dunia ini adalah sendagurau, hidup ini hanyalah permainan, hidup ini adalah perniagaan, dan sebagainya. Al Quran sangat kaya dengan metafora yang mengarahkan kehidupan manusia ke arah yang benar.

Dalam rimba kehidupan ini, akan ada berbagai tipe manusia. Saya ingin bermetafora, tetapi seolah sedang berbisnis atau berniaga dengan Allah SWT. Dalam dunia bisnis, banyak tipe manusia di arena tersebut. Sekurang-kurangnya ada 4 (empat) kategori, yaitu:

1. Tipe Pengemis

Tipe ini hobinyameminta, namun enggan memberi. Berniaga dengan Allah SWT maunya meminta saja, tidak mau mengibadahiNya. Selalu mengeluh, dan suka menyalahkan Allah dan nasib. Tipe ini rela mempermalukan dirinya atau membohongi dirinya untuk mendapatkan sesuatu.

Mereka ini banyak yang berkecukupan dalam materi dan kenikmatan dunia. Ketika berada dalam sebuah organisasi, ia selalu memikirkan dan mengatakan bahwa organisasi tidak pernah memberikan apapun kepadanya. Organisasi dan perusahaan selalu memperalatnya.

Mereka selalu mencari manfaat dari organisasi, perusahaan dan orang lain. Pertanyaan khas mereka adalah:"Adakah bagian buat saya? Ada proyek apa buat saya? Dapatkah saya?”

Para pengemis ini tidak pernah setia dengan suatu organisasi atau perusahaan. Mereka akan mengetuk pintu-pintu lain dan dengan muka memelas selalu minta dikasihani. Mereka tidak pernah menawarkan kepada orang lain peluang atau kesempatan. Mereka hampir tidak pernah bertanya kepada orang lain: "Ada yang bisa saya bantu ?"

Tipe pengemis seringkali mengeluhkan dirinya tidak mendapatkan apa-apa dari orang lain, organisasi dan termasuk Allah SWT. Bahkan mereka mengeluh bahwa Allah telah menzhalimi mereka. Hanya mereka sajalah yang menderita di dunia ini, sehingga mereka berhak mendapatkan apa yg mereka minta.

2. Tipe Konsumtif

Mereka ini mudah tertipu "iklan". Mereka mudah mengganti keyakinan dan menjual keyakinan, karena tertipu dan silau oleh gemerlap dunia. Mereka rela menggadaikan kejujuran dan kehormatan demi keuntungan duniawi.

Tipe ini mementingkan penampilan dan melupakan esensi. Penerimaan dan pengakuan baru mereka akui kalau bisa ditunjukkan dengan materi, kebendaan dan fisik. Mereka rela menghabiskan usia, keyakinan bahkan aqidah demi kebendaan yang diiklankan,oleh musuh manusia: Syaithan.

Tipe ini rela melakukan apapun demi menggapai keinginan pada kebendaan dan jarang berfikir bahwa mereka akan habis dan miskin (secara mental) pada saat tua dan tidak memiliki apa-apa saat di akhirat.

Perhatikanlah bahwa mereka yang mendapatkan materi dengan menggadaikan keyakinan, kejujuran dan nilai-nilai baik, akan sangat "sakit" baik secara fisik maupun mental.

3. Tipe Calo (Broker)

Tipe manusia seperti ini pelit dan takut membayar harga sebuah kesuksesan. Mereka hampir mirip tipe pengemis, namun lebih cerdas dalam bertindak. Mereka memilih tindakan, seraya mengajak orang ke arah kebaikan, perbaikan mental namun tidak mengerjakannya buat dirinya sendiri.

Ia layaknya calo angkot yang meneriakkan tujuan suatu angkutan umum, namun tidak pernah ikut naik dan berangkat ke tujuan tersebut. Ia beranggapan bahwa tindakan tersebut sudah membantu orang lain. N,amun mereka tertipu, karena melupakan kebaikan untuk diri mereka sendiri.

Tipe calo ini sering cari aman. Mereka mau menyebarkan kebaikan namun tidak mau mengerjakan. Banyak para ustadz dan ustadzah yang hebat dalam berdakwah, mengajak orang lain, namun memiliki keluarga yang berantakan, anak-anak yang broken home (pemabuk, penjudi, perampok, dan pelaku criminal lainnya), karena kurang perhatian, atau kehidupannya yang penuh dengan kebohongan. Mereka berteriak tentang kebaikan, namun tidak pernah mengerjakannya.

4. Tipe Pedagang

Tipe ini penuh perhitungan untung rugi dalam berbuat sesuatu. Mereka benar-benar memilih perbuatan mereka. Mereka akan meninggalkan tindakan yang tidak menguntungkan dan tidak berdampak positif bagi mereka. Mereka akan bersegera berbuat kebaikan kalau di dalamnya terdapat keuntungan, dan meninggalkannya kalau itu merugikan dan berdampak negatif bagi mereka. Karena itu, mereka akan memilih amalan yang bisa cepat menghasilkan keuntungan, baik secara materi maupun spiritual.

Mereka menabur kebaikan dengan harapan bisa segera mendapatkan balasan yang segera. Bersedekah agar cepat kaya. Sholat agar bisa tenang. Puasa agar bisa sehat. Mereka akan mengeluh, jika tidak mendapatkan manfaat dari perbuatan positif tersebut dan akan mengurangi atau bahkan meninggalkan perbuatan positif yang belum menampakkan hasilnya secara cepat di dunia.

4. Tipe Investor

Tipe investor ini juga penuh perhitungan dalam bertindak. Mereka memilih tindakan berdasarkan ilmu yang mereka miliki dan tidak ngotot untuk segera memperoleh hasilnya.

Seorang investor bekalnya ilmu dan nyali dalam berinvestasi, plus modal tentunya. Mereka berpendapat bahwa perbuatan baik, tidak mesti mendapatkan bayaran di dunia. Investasi akan diperoleh imbalannya di akhirat. Mereka akan panen nanti, jika telah mendapatkan kebaikan saat di dunia. Fokus mereka adalah akhirat, yakni Ridho Allah SWT. Ketika melakukan sebuah perbuatan baik, kemudian tidak mendapatkan manfaatnya secara cepat, maka mereka akan terus menjaga investasinya itu, karena mereka yakin akan memanennya kelak di akhirat.

Penutup

Itulah tipe manusia secara umum. Mungkin ada tambahan dari teman-teman atau mau melengkapi tulisan ini. Perbaikan dan tambahan masih terbuka lebar Silahkan. Terpenting bagi kita adalah mengetahui tipe manusia terbaik. Dalam hal ini, tipe investor adalah pilihan saya.

Salam sukses bahagia!
Zulfi Andri


Sumber (Telah diperbaiki Redaksionalnya):


http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=444209924461&ref=notif&notif_t=note_tag

Lir Ilir

(Tembang Sunan Kalijaga)


Lir-ilir, Lir Ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah Angon, Cah Angon
Penekno Blimbing Kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo masuh Dodotiro

Dodotiro Dodotiro
Kumitir Bedah ing pinggir
Dondomono, Jlumatono
Kanggo Sebo Mengko sore
Mumpung Padhang Rembulane
Mumpung Jembar Kalangane
Yo surako surak Iyo!!!


Pengantar

Tembang di atas barangkali sudah akrab di telinga kita, apalagi bagi orang Jawa yang berada di wilayah penyebaran agama Islam Wali Songo. Ada yang mencoba menguraikan makna tembang di atas, baik dalam konteks hubungannya dengan sejarah, syariat Islam, sampai kepada hakikat yang terkandung di dalamnya.

Tulisan singkat ini mencoba menguraikan makna tembang tersebut. Jika ada kekurangan atau kesalahan adalah karena keterbatasan penulis dalam pemahaman, semoga Alloh SWT memaafkan. Jika ada kebaikan di dalamnya, hal itu semata-mata datang dari Alloh SWT


Terjemahan Bebas Tembang dan Makna yang Terkandung

1. Lir-ilir, Lir-ilir
(Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir
(Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo
(Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar
(Bagaikan pengantin baru)

Makna:

Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukannya, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan Alloh SWT dalam diri kita, yang dalam hal ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati, atau ,bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga tumbuh besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati). Bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji adalah apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan? Hidupnya Apa? Ruh? Kesadaran? Pikiran? Terserah kita apa yang perlu dihidupkan. Jangan lupa, di sini ada unsur angin. Berarti cara menghidupkannya adalah dengan menggerakkan (kita fikirkan ini secara dinamis), gerak yang menghasilkan udara. adalah ajakan untuk berdzikir. Inilah usaha untuk menghidupkan sesuatu itu. Berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka di situ akan didapatkan manfaat yang mampu menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita.

Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Demikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.


2 Cah angon, cah angon
(Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi
(Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno
(Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo masuh dodotiro
(untuk membasuh pakaianmu)

Makna:

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa “Cah angon? “ Bukan “Pak Jendral”, “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon?” Cah angon adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seseorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya di jalan yang benar. Sebutan anak gembala oleh Alloh SWT adalah perlambang “hati (nurani)” yang digembalakan. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya?

Anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang buahnya bersegi lima. Buah belimbing menggambarkan lima rukun Islam. Meski licin dan susah (memanjatnya), kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut sekuat tenaga, tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.

Lalu, kenapa “Blimbing?” Belimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Ia merupakan isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah belimbing yang menggambarkan rukun Islam. Inilah dasar dari agama Islam. Sedangkan “Penekno” adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja Tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo masuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah diambil (buah belimbingnya) untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah (pakaian) taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. Ini etos hidup Muslim. Untuk apa semua itu? Gunanya adalah untuk mencuci (membersihkan) pakaian kita, yaitu pakaian taqwa.


3. Dodotiro, dodotiro
(Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir
(terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono
Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore
(untuk menghadap nanti sore)

Makna:

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah. Bukankah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa?“ Pakaian taqwa sesekali bisa jadi terkoyak dan berlubang di sana sini. Kalau sudah begini, kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kita siap ketika dipanggil menghadap Alloh SWT.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Mahapencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah keislamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.


4. Mumpung padhang rembulane
(Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane
(mumpung banyak waktu luang)
Yo surako surak iyo!!!
Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Makna:

Kita diharapkan melakukan hal-hal di atas (no 1-3) ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang. Jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan.


Penutup

Lir ilir adalah judul tembang di atas. Ia bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang yang mengandung makna mendalam. Ia mengarahkan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah.

Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini. Beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini.

Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico), mereka pernah menterjemahkan lagu ini untuk keperluan bermain dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Sunan Kalijaga, seperti Sunan-sunan lainnya dari Wali Songo, beliau suka berdakwah melalui seni. Lebih dari itu, tembang Sunan Kalijaga ini tidak lebih sebagai sebuah seruan kebaikan dari seorang pengemban dakwah. Ia sama saja dengan tembang-tembang lain yang diniatkan untuk menggugah mata hati manusia akan hakikat hidupnya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS Al-Anfal: 25).

Kamis, 05 Agustus 2010

Menyambut Ramadhan

Beberapa hari ke depan, akan datang tamu istimewa bagi Umat Islam. Tamu ini selalu dirindukan, dinantikan kedatangannya oleh orang-orang yang beriman. Marhaban, ya Ramadhan. Dalam bilangan hari ia akan datang mengunjungi kita.

Entahlah. Apakah kita sudah siap menyambutnya? Insya Allah kita gembira menyambutnya. Bulan yang penuh berkah, ampunan dan imbalan yang diberikan Allah SWT kepada umatnya yang rela dan ikhlas menjalankannya. Setiap detik, setiap menit, jam per jam, hari-hari yang dilewati, rasanya sangat tidak rela kita melewatkannya. Ya Allah kami, berikan kemudahan bagi kami menjalaninya.

Bersyukur, Berdoa dan Gembira

Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar berkata:

”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.”

Di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan dan kesempatan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Ketika Ramadhan tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, maka kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk rasa syukur.

Berdoa kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik shaumnya, shalat (fardhu, sunnah, tarawih), tadarrus-tilawah, dan berdzikir.

Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah Saw apabila masuk bulan Rajab, beliau selalu berdoa:

”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna Ramadhan” (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan -HR. Ahmad dan Tabrani).

Salafush-shalih (orang-orang terdahulu yang shaleh) sangat memperhatikan bulan Ramadhan. Mereka bergembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadhan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.

Para salafush-shalih juga selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadhan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah:

”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha” (Ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai).

Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadhan:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka” (HR. Ahmad).

Pelajarilah Hukum dan Amalan Ramadhan

Setiap mukmin wajib beribadah dengan landasan ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah.

“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.

Selain itu, hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadhan.

Merancang Kegiatan Bermanfaat dan Ketaatan

Ramadhan sangat singkat, hanya sebulan saja. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kita kepada Allah. Siapa saja yang jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikannya.

“Tetapi jika mereka benar terhadap Allah, pasti yang demikian itu lebih baik bagi mereka” [Q.S. Muhamad (47): 21]

Tinggalkan dosa dan Keburukan (Buka Lembaran Baru)


Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Inilah saatnya waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Ramadhan adalah bulan taubat.

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung” [Q.S. An-Nur (24): 31]

Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah Saw kita berpedoman salam usaha melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, kita terus mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, kita berusaha menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Berdakwah dan Mendengarkan Dakwah

Di lingkungan kita ada mushollah. Di sekitar kita ada teman. Di kalangan kita ada keluarga, kerabat, anak dan istri. Ini adalah lahan dan tempat kita menebarkan kebaikan dan menyerukan kebaikan (dakwah). Buatlah agenda kegiatan untuk semua kalangan tersebut di atas. Pada bulan Ramadhan ini, misalnya, bisa kita lakukan hal-hal berikut:

1. Buat catatan kecil untuk kultum (kuliah /kajian tujuh menit) untuk tarawih, dan ba’da sholat fardlu).
2. Membagikan buku saku (kalau punya, dan berusaha mendapatkan ke peneribit) atau selebaran yang berisi nasihat tentang keutamaan ibadah Ramadhan.
3. Mengunjungi masjid, musholla, majelis taklim, halaqoh, liqo’, yang mengadakan pengajian dan kajian Al Qur’an dan Hadits..
4. Jangan lewatkan waktu sia-sia untuk melakukan apa saja yang bernilai positif. Ingatlah bahwa pada bulan itu semua amalan nilainya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Berdoalah Bila Keluar Rumah

Seringkah Anda keluar rumah setiap hari? Tentu sering. Pergi bekerja, berbelanja, ke sekolah, menjemput anak sekolah, keluar rumah untuk hal-hal yang positif, bahkan (naudzubillah) untuk maksiat sekalipun, semua umumnya dilakukan di luar rumah.

Kecelakaan dan maksiat lebih besar peluangnya terjadi di luar rumah. Lihatlah orang yang tertabrak motor, menabrak mobil, dicopet, dimarahi atasan, marah pada orang lain, dipukul orang, selingkuh, korupsi, dan banyak lagi kejadian lainnya, semua itu terjadi di luar rumah.

Bagi seorang Muslim, bila ingin keluar rumah untuk melakukan semua perbuatan yang bernilai positif, maka kita dianjurkan untuk mengikuti anjuran Rasulullah Saw, yakni:

“Apabila seseorang keluar dari rumahnya dan berdoa: Bismillaahi tawaqqaltu alallaah, la haula walaa quwwataa illaa billaah (dengan nama Allah, aku bertawakal kepadaNya, tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolonganNya), pasti akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau telah diberi petunjuk dan dilindungi.” Syetanpun akan menjauhi dirinya” (HR Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Maka pada saat itu dikatakan kepadanya, ”Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dilindungi.” Maka akan menjauhlah syetan darinya, dan syetan yang lain akan berkata “Bagaimana engkau dapat menggelincirkan seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dilindungi?” (HR Nasai, Ibnu Hibban dan Abu Daud).

Mengingat hikmah yang luar biasa itu, mari biasakan selalu membaca doa tersebut setiap kali kita keluar rumah, walau hanya untuk membeli kerupuk di warung sebelah.

Wassalam