Tampilkan postingan dengan label Kajian Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Umum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Agustus 2010

Yang Diinginkan Anak




Satu keinginan yang sudah berkeluarga adalah anak. Hidup menjadi terasa lengkap. Namun anak-anak punya harapan kepada orang tua. Mereka menginginkan orang tua punya waktu luang, mau berbagi, dan sebagainya. Coba perhatikan apa keinginan mereka.

Ada Waktu Luang

Boleh saja sibuk berkarier di luar rumah, karena tujuan bekerja pasti untuk anak. Namun, anak pun menginginkan ada waktu luang baginya. Jadi, pintar-pintarlah membagi waktu. Harus ada kesepakatan dalam menetapkan hari libur, yang itu tak boleh lagi diusik dengan pekerjaan. Manfaatkan dengan optimal waktu libur bersama anak.

Ada Kasih Sayang yang Tercurah

Kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Kasih sayang dan perhatian adalah penting bagi mereka. Bentuk perhatian tidak perlu harus dengan hadiah. Menemaninya belajar atau bermain bersamanya, sudah cukup membuat anak senang.L uangkan waktu istirahat siang untuk menelpon anak sehingga mereka merasa lebih diperhatikan.

Tidak Ada Pertengkaran

Orang tua kadangkala tidak menyadari, saat emosi mereka memuncak, masalah anak dikesampingkan. Secara psikologis, momen itu tidak baik untuk perkembangan anak. Jiwanya tertekan dan ia bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Jika persoalan muncul, selesaikan saat anak tidak di rumah atau sedang tidur, sehingga ia tidak melihat atau mendengarkan orangtuanya bertengkar.

Tidak Ada Pilih Kasih

Jangan sesekali membedakan kasih sayang antara anak yang satu dengan anak yang lain. Bagi anak yang di nomor duakan ia akan cemburu. Jangan pernah membuat batasan, yang bungsu harus lebih disayang daripada yang besar. kalau tidak ingin diprotes anak. Bersikaplah adil dalam memberikan kasih sayang.

Ramah Terus

Sikap orangtua yang tidak bersahabat dengan teman-teman si kecil jelas membuat si kecil tidak nyaman. Ini sering terjadi. Meski suasana hati sedang tidak nyaman, cobalah bersikap ramah pada teman-teman si kecil. Ingat anak tak siap menerima perlakuan seperti itu dan akan berontak jika orangtuanya mempermalukannya.

Tepati Janji

Janji adalah utang yang harus ditepati. Jangan memberikan janji pada anak, jika hal itu hanya dimaksudkan dengan bercanda atau tidak bersungguh-sungguh. Jangan sampai orang tua mendapat cap sebagai orangtua pembohong. Jika Anda sudah terlanjur berjanji sebaiknya ditepati. Atau paling tidak, katakanlah bahwa janji itu ditunda dulu untuk sementara waktu, menunggu ada waktu luang yang tepat buat membebaskan dari “hutang” tersebut.

Pintar dan Cekatan

Anak juga menginginkan punya orangtua yang pintar dan cekatan. Tidak perlu harus menjadi seorang profesor, tetapi setiap kali anak bertanya, Anda bisa menjawabnya. Jadi, banyaklah membaca, mendengar, dan menggali sumber informasi dari berbagai sumber bacaan dan ahli. Berburulah pengetahuan agar anak bisa bangga kepada orang tuanya.

Jadi Teman

Hubungan anak dengan orangtua kadang tidak harmonis, karena orangtua sering membuat batasan, tidak mau mengakrabkan diri pada anak dengan alasan agar anak segan. Cobalah agar menata kembali hubungan dengan anak agar lebih akrab. Posisikan diri tak hanya sebagai orangtua saja, tetapi bisa juga sebagai teman baginya.

Mampu Mengatasi Masalah

Seringkali orangtua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan bentuknya banyak macamnya, mulai dari masalah keluarga sampai dengan urusan pekerjaan. Padahal itu tidak perlu diketahui anak. Kenapa harus berbagi masalah dengan anak. Apa yang dapat Anda harapkan dari anak yang masih kecil dan pola pikirannya belum luas? Bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih tua yang dapat memahami masalah tersebut.

Selasa, 04 Mei 2010

Mengenal Sejarah Faham Liberalis

Dari Ideologi menjadi Theologi

Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi



Pengantar


Kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir (The old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna.

Secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi (Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy). Dalam konteks sosial liberalisme diartikan sebagai adalah suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum (Coady, C. A. J. Distributive Justice). Menurut Alonzo L. Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity) (Brinkley, Alan. Liberalism and Its Discontents).

Asal Mula Faham Liberalis

Sejarahnya paham liberalisme ini berasal dari Yunani kuno, salah satu elemen terpenting peradaban Barat. Namun, perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan raja kepada bangsawan bawahan. Charta ini secara otomatis telah membatasi kekuasaan Raja John sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism).

Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada tahun 1688 yang kemudian dikenal dengan sebutan The Glorious Revolution of 1688. Revolusi ini berhasil menurunkan Raja James II dari England dan Ireland (James VII) dari Scotland) serta mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini, parlemen Inggris menyetujui sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dan kebebasan masyarakat Inggris.

Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treatises of Government (1690), John Locke menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi.

Singkatnya pada abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama pada tahun 1918, beberapa negara Eropa menerapkan prinsip pemerintahan demokrasi. Hak kaum perempuan untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi di dalam pemerintahan diberikan. Menjelang tahun 1930-an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik saja, tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang lainnya; misalnya ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Tahun 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan, yakni kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Pada tahun 1948, PBB mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di samping hak politik.

Aliran-aliran Liberalis

Jika ditilik dari perkembangannya liberalisme secara umum memiliki dua aliran utama yang saling bersaing dalam menggunakan sebutan liberal.

1) Pertama adalah liberal klasik atau early liberalism yang kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan dalam usaha individu, dalam hak memiliki kekayaan, dalam kebijakan ekonomi dan kebebasan melakukan kontrak serta menentang sistim welfare state.

2) Kedua adalah liberal sosial. Aliran ini menekankan peran negara yang lebih besar untuk membela hak-hak individu (dalam pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk hukum anti-diskriminasi.

Selain kedua tren liberalisme diatas yang menekankan pada hak-hak ekonomi dan politik dan sosial terdapat liberalisme dalam bidang pemikiran termasuk pemikiran keagamaan.

Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang, dan terbuka. Kebebasan intelektual adalah aspek yang paling mendasar dari liberalisme sosial dan politik atau dapat pula disebut sisi lain dari liberalisme sosial dan politik. Kelahiran dan perkembangannya di Barat terjadi pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke 17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan.

Pada saat terjadi Revolusi Perancis tahun (1789) kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik sudah dicanangkan. Prinsip-prinsip Revolusi Perancis itu bahkan dianggap sebagai Magna Charta liberalisme:

a) penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan;
b) penyingkiran agama dari kehidupan publik dan menjadinya bersifat individual.
c) Agama Kristen (Gereja) harus dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial.

Ciri liberalisme pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Ini sejalan dengan doktrin nihilisme yang merupakan ciri khas pandangan hidup Barat postmodern yang telah disebutkan diatas.

Kronologi (Apa Itu) Liberalisasi Teologi

Di Barat yang mula-mula muncul adalah liberalisme intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan, namun dari situ lahir dan tumbuh liberalisme pemikiran keagamaan yang disebut juga Theological Liberalism. Perkembangan liberalisme pemikiran kaagamaan ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga fase perkembangan:

Fase pertama dari abad ke 17, dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan abad ke 18. Doktrin utamanya adalah:

a) percaya pada akal manusia
b) keutamaan individu (individu sebagai sentral segalanya)
c) imanensi Tuhan (kepercayaan kepada Tuhan), dan
d) meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat dikembangkan).

Fase kedua bermula akhir abad ke 18 dengan doktrin Romantisisme yang menekankan pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-consciousness). Tokohnya adalah Jean-Jacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher dsb.

Fase ketiga (terakhi)r bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang perkembangan (notion of progress).

Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang berkembang progresif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta di harapkan dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern. Itulah sebabnya maka kajian mengenai doktrin-doktrin Kristen kemudian berubah bentuk menjadi kajian:

1) psikologis pengalaman keagamaan (psychological study of religious experience),
2) sosiologis lembaga-lembaga dan tradisi keagamaan (sociological study of religious institution),
3) filosofis pengetahuan & keagamaan (philosophical inquiry into religious knowledge & values).

Sementara itu pada abad ke 19 liberalisme dalam pemikiran keagamaan Katholik Roma berbentuk gerakan yang mendukung demokrasi politik dan reformasi gereja, namun secara teologis tetap mempertahankan ortodoksinya.

Sedangkan dalam pemikiran Kristen Protestan liberalisme merupakan tren kebebasan intelektual yang menekankan pada substansi etis dan kemanusiaan Kristen dan mengurangi penekanan pada teologi yang dogmatis. Artinya dengan masuknya paham liberalisme kedalam pemikiran keagamaan maka banyak konsep dasar dalam agama Kristen yang berubah.

Ciri Pemikiran Liberal

Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat adalah sbb:

1) Percaya pada Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam kepercayaan Kristen Orthodok.

2) Memisahkan antara doktrin Kristen dan etika Kristen. Inilah yang membawa kelompok liberal untuk berkesimpulan bahwa orang atheist sekalipun dapat menjadi moralis.

3) Tidak percaya pada doktrine Kristen Orthodok, seperti doktrin-doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, perawan yang melahirkan, Bible sebagai kata-kata Tuhan secara literal, takdir, neraka, setan dan penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). Doktrin satu-satunya yang mereka percaya, selain percaya akan adanya Tuhan adalah keabadian jiwa.

4) Keempat, Menerima secara mutlak pemisahan agama dan negara. Para pendiri negara Amerika menyadari akibat dari pemerintahan negara-negara Eropah yang memaksakan doktrin suatu agama dan menekan agama lain. Maka dari itu kata-kata “Tuhan” dan “Kristen” tidak terdapat dalam undang-undang. Ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama liberal dalam konvensi konstitusi tahun 1787.

5) Kelima, Percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama. Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum atheis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama.

Dalam liberalisme pemikiran keagamaan, masalah yang pertama kali dipersoalkan adalah:

a) konsep Tuhan (teologi),
b) doktrin atau dogma agama.
c) mempersoalkan dan memisahkan hubungan agama dan politik (sekularisme).
d) sekularisme oleh pemikiran postmodernisme, menjunjung pluralisme, persamaan & relativisme.

Penutup

Faham LIberalis yang awalnya adalah merupakan “pemberontakan” diri dari kekangan gereja, dan itu berhasil mengubah segala sesuatunya di Barat sana, tetapi kini paham liberalisme ini sedang diekspor ke dunia Islam, khususnya Indonesia.

Tulisan sederhana di atas hanya sekedar memberikan pemahaman awal bahwa Liberalisme Keagamaan sungguh-sungguh akan melanda kita. Pengembang faham ini didukung oleh dana yang luar biasa dari Amerika Serikat dan sekutunya, Yahudi Internasional. Karenanya, memahami dasar-dasar awal terbentuknya Faham Liberalis tersebut, agaknya baik untuk kita, agar kita segera mampu mengetahu sejak awal: minimal kita dan lingkungan keluarga tidak termakan ide busuk mereka (kaum Liberalis).

Liberalisme dan Feminisme pada Ide-ide Kartini

Oleh Tiar Anwar Bachtiar



Pengantar


Gelombang liberalisme di Indonesia masuk berbagai pintu. Salah satu pintu yang boleh dikatakan sukses adalah pintu isu kesetaraan gender. Isu ini bahkan telah berhasil menembus kebijakan negara. Alhasil, gender mainstreaming menjadi salah satu program penting dalam semua lini program yang dicanangkan pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga meratifikasi MDGs (Milenium Development Goals) yang salah satu indikatornya adalah pengaruhutamaan gender. Targetnya sangat telanjang: menyamakan peran laki-laki dan perempuan.

Artikel ini tidak akan membicangkan masalah ini. Tulisan ini memfokuskan asal-muasal gerakan ini muncul di negeri ini? Apakah tepat konteks sosial keindonesiaannya?

Berawal dari Feminisme Kartini

Gerakan perempuan di Indonesia mulai menyeruak ke permukaan setelah terbit buku kompilasi surat-menyurat Kartini dengan teman-teman Belandanya (Ny. Abendanon, Stella, Ny. Ovink-Soer, dll) bertajuk Door Duisternis Tot Licht (1911). Buku ini menjadi populer ketika Armyin Pane, pujangga angkatan Balai Pustaka, menerjemahkannya dan memberinya judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku itu dianggap memberi inspirasi bagi kaum wanita di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya agar sejajar dengan laki-laki. Alhasil kata “emansipasi wanita” menjadi kata-kata yang sangat familiar di negeri ini; dan Kartini pun didaulat sebagai salah seorang pahlawan wanita kebangga bangsa ini.

Dalam surat-suratnya, Kartini bercerita tentang kegetiran dan nestapa yang dialaminya sebagai anak-wanita seorang priyayi Jawa (Bupati). Ia selalu ditempatkan sebagai makhluk kelas dua setelah saudara laki-lakinya. Perannya dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki. Ayahnya menikah secara poligami yang membuatnya sangat tidak senang, sekalipun akhirnya ia harus menerima kenyataan menjadi istri keempat Bupati Rembang.

Atas pengalaman yang dialaminya itu, Kartini sampai pada kesimpulan bahwa wanita Indonesia harus bergerak dan bangkit melawan penindasan ini. Untuk bangkit itu, “Kartini bercita-cita memberi bekal pendidikan kepada anak-anak perempuan, terutama budi pekerti, agar mereka menjadi ibu yang berbudi luhur, yang dapat berdiri sendiri mencari nafkah sehingga mereka tidak perlu kawin kalau mereka tidak mau.” (Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini, Djambatan, 1985: xvii).

Kartini yang Berubah: Nonfeminisme

Sampai pada titik ini, pemikiran-pemikiran feminis Kartini terlihat terang-benderang, walaupun akhirnya ia memilih untuk meninggalkan pemikiran-pemikirannya ini. Kartini rupanya lebih senang menjadi wanita Jawa apa adanya. Ia memilih untuk menikah, punya anak, dan tidak bekerja mencari nafkah sendiri seperti yang ia angankan sebelumnya.

Bahkan pernikahan poligami yang sebelumnya sangat dimusuhi dan dianggapnya sangat “diskriminatif” terhadap wanita, akhirnya ia jalani. Keputusannya ini sangat disayangkan oleh teman-teman Balandanya, terutama Stella. Stella kecewa atas perubahan pikiran dalam diri Kartini. Sebagai seorang penganut feminisme yang sudah mendarah-daging, Stella betul-betul tidak dapat mengerti keputusan Kartini.

Kartini sendiri tidak terlihat sama sekali merasa tertindas atas pernikahan poligaminya. Bahkan beberapa saat setelah pernikahannya Kartini menulis surat kepada J.H. Abendanon dan istrinya yang menunjukkan bahwa pernikahannya, sekalipun pernikahan keempat bagi suaminya, sama sekali baik-baik saja.

“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik dan menyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).

Guru Ide Kartini: Stella Zeehandelar (Penganut Feminisme)

Mencermati perjalanan hidup Kartini seperti itu, patut dipertanyakan dari mana Kartini punya pikiran feminis pada awal-awal suratnya? Padahal, sejatinya Kartini adalah wanita Jawa yang ternyata lebih menghayati kehidupan budayanya. Kesenangannya justru lahir dalam harmoni mengikuti ritme budaya tempat sekian lama ia hidup dan sudah mendarah daging sejak lahir. Ia tidak pernah senang menjadi wanita pemberontak seperti yang diajarkan para feminis.

Pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab kalau kita tidak mencermati di mana Kartini bersekolah dan dengan siapa ia berkirim surat. Kartini bersekolah di sekolah Belanda karena ia seorang anak bupati yang bisa menikmati sekolah bersama dengan anak-anak Belanda. Menjelang abad ke-20 saat Kartini bersekolah adalah saat ide-ide politik etis yang dipengaruhi kelompok liberal di Belanda tengah menjadi arus wacana utama di Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Selain karena arus wacana politik etis, karena bersekolah di sekolah Belanda sudah tentu Kartini akan menyerap berbagai paham yang tengah berkembang di Barat. Salah satu yang tidak bisa dihindari adalah liberalisme. Pandangannya tentang kedudukan laki-laki dan perempuan pun hampir bisa dipastikan banyak terpengaruh pandangan-pandangan liberal yang diajarkan guru-guru belandanya di sekolah. Dari sekolah Belanda ini pula Kartini bertemu dengan buku-buku dan surat kabar yang berhaluan liberal.

Pengaruh feminis yang paling meyakinkan dalam surat-suratnya adalah teman-teman korespondensinya sendiri. Stella Zeehandelar adalah salah seorang yang paling feminis dibanding teman-temannya yang lain. Usianya lebih tua 5 tahun dari Kartini, anak dari orang tua Yahudi-Belanda. Ia penganut sosialis yang sangat kuat dan aktivis feminis sejak masih di Belanda sampai bekerja di Indonesia. Kartini berkenalan dengan Stella pada tahun 1899 melalui redaksi De Hollandse Leile, majalah wanita yang saat itu sangat populer. Teman-temannya yang lain pun rata-rata berpaham liberal seperti pada umumnya orang-orang yangd atang dari Belanda pada abad ke-19 dan 20.

Penutup
Sumber Feminisme Kartini: Sekolah dan Teman Belandanya


Paham feminis yang muncul dalam surat-surat Kartini hampir bisa dipastikan berasal dari dua sumber di atas: sekolah Belanda dan teman-teman Belandanya. Beruntung bahwa Kartini sesungguhnya tidak benar-benar menjadi feminis ekstrim yang: memusuhi laki-laki. Feminisme bagi Kartini hanya sebatas wacana yang bergolak dalam pikirannya. Selebihnya ia sampaikan itu dalam surat-suratnya. Kartini sendiri tidak pernah berniat sama sekali mempublikasikan pikiran-pikirannya itu, bahkan sampai ia meninggal tahun 1904 dalam usia 25 tahun beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Justru yang mempromosikan pemikiran-pemikiran feminis ini adalah Mr. J.H. Abendanon, Menteri Agama, Pengajaran, dan Kerajinan Hindia Belanda. Ia mengumpulkan semua surat-surat Kartini, menyusunnya, kemudian menerbitkannya tujuh tahun setelah Kartini wafat.

Abendanon sendiri, secara politis, adalah penganut aliran etis (baca: liberal) di Belanda. Sangat wajar kalau ia kemudian mempromosikan ide-ide liberal seperti yang tercermin dalam surat-surat Kartini. Secara tidak langsung Abendanon ingin mengajarkan feminisme-liberal kepada masyarakat Indonesia, namun meminjam tangan anak bangsa Indonesia sendiri, Kartini. Inilah sesungguhnya awal mula benih feminisme-liberal ditaburkan di bumi Indonesia yang sesungguhnya tidak menyimpan masalah besar dalam hubungan laki-laki perempuan, sejak Islam datang ke negeri ini.

Kelahiran Kartini kemarin (21 April) sudah diperingati. Tetapi peringatan itu masih sangat banyak menyisakan pertanyaan. Salah satunya adalah, mengapa harus sosok Kartini yang diusung sebagai sosok perempuan Indonesia. Bukankah sangat banyak perempuan Indonesia yang jauh berguna, berjasa, bermanfaat bagi negeri ini? Wallâhu A’lam.

Minggu, 07 Maret 2010

Kode Matematis pada Makanan Kemasan Berbahan Babi

Oleh Dr.M. Anjad Khan



Salah seorang rekan saya, Shaikh Sahib, bekerja sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Perancis. Ia berugas mencatat semua merk barang, makanan dan obat-obatan. Produk apapun yang akan dipasarkan suatu perusahaan, bahan-bahan produk tesebut harus mendapat ijin dari BPOM Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di bagian quality control (QC). Karenanya ia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan.

Banyak dari bahan-bahan tersebut ditulis dengan istilah ilmiah. Namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam bentuk kode matematis, semisal E-904, E-141.

Awalnya Shaikh Sahib menemukan bentuk kode matematis. Dia penasaran lalu menanyakan kode tersebut kepada orang Prancis, fihak yang berwenang dalam bidang itu. Namun orang Prancis itu menjawab, “Kerjakan saja tugasmu, dan jangan banyak tanya ...!” Jawaban itu menimbulkan kecurigaan Sahib. Ia mulai mencari tahu kode matematis dalam dokumen yang ada. Ternyata, apa yang dia temukan kelak mengagetkan bagi kaum muslimin sedunia.

Hampir di seluruh negara bagian barat, termasuk Eropa, pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak di negara- negara Barat. Di Perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 unit. Selain itu, jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan ternak lainnya. Orang Eropa & Amerika sendiri berusaha menghindari lemak babi. Timbul pertanyaan, dikemanakan lemak-lemak babi tersebut?

Babi-babi yang dipotong di rumah jagal, diawasi BPOM. Tetapi yang bikin pusing POM adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi. Dahulu, sekitar 60 tahun lalu, lemak-lemak babi itu dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut.

Sebagai awal uji cobanya, mereka membuat sabun, dan berhasil. Lemak-lemak itu diproses secara kimiawi. Hasil produknya dikemas rapi dan dipasarkan. Untuk produk seperti ini negara-negara Eropa memberlakukan aturan yang mewajibkan produsen untuk mencantumkan bahan setiap produk makanan, obat-obatan, pada pada kemasan. Karena itu, prodek berbahan dari lemak babi dicantumkan dengan nama Pig Fat (lemak babi) pada kemasan produknya.

Agar mudah dipasarkan, penulisan lemak babi dalam kemasan diganti dengan nama “lemak hewan”. Ketika produsen ditanya pihak berwenang dari negara Islam, maka dijawab lemak tersebut adalah lemak sapi dan domba. Walaupun lemak itu tetap haram bagi muslim, karena penyembelihannya tidak sesuai syariat Islam. Label baru itu dilarang keras masuk negara Islam. Akibatnya produsen rugi besar, karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produk ke negara Islam. Laba mereka sebelumnya bisa mencapai miliaran dollar.

Akhirnya, mereka membuat kodefikasi bahasa yang hanya dimengerti BPOM, sementara orang lain tak ada yang tahu. Kodenya diawali dengan E ? CODES, E-INGREDIENTS. Ini ada pada kemasan produk perusahaan mutinasional, berupa pasta gigi, permen karet, cokelat, gula-gula, biskuit, makanan kaleng, buah-buahan kaleng, dan beberapa multivitamin, serta masih banyak lagi jenis makanan dan obat-obatan lainnya. Karena itu, saya mohon kepada kaum Muslimin di mana pun, periksalah dengan seksama bahan-bahan produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES.

Berikut ini disebutkan kode matematisnya, karena sudah pasti produk dengan kode-kode
di bawah ini, positif mengandung lemak babi :

E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,
E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Adalah tanggungjawab kita bersama untuk mengikuti syari'at Islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada sesama Muslim lainnya. Semoga manfaat,

-----------------------------------
M. Anjad Khan
Medical Research Institute United States



Catatan Tambahan

Jika emulsifier yang dipakai warung Starbuck berkode E471 (tidak ada embel2 lain, misal : lecithin de Soja atau Soy lecithin), maka itu adalah "origin"nya adalah pork or varken (babi). Sebenarnya tak hanya E471 tapi juga E472.

E471 biasa dikenal dengan sebutan Lecithin è originnya merupakan ekstrak dari tulang babi. Sedangkan E472 (saya tak ingat nama dagangnya) è originnya adalah ekstrak tulang babi juga. Kedua additive ini merupakan senyawa turunan dari asam lemak (fatty acid) dari lemak babi. Biasanya kedua additive ini sangat sering ditemukan pada produk2 berikut :

Produk makanan mengandung cokelat è roti, ice cream, biskuit, dan lain-lain
Produk makanan yang memerlukan elmusifier è coklat bar, ice cream, or bulk, coffee cream, marshmallo, jelly, dan sebagainya.

Para keluarga Muslim Groningend the Netherlands & ikatan keluarga Muslim Eropa memperingatkan kami untuk mengecek content /ingredient emulsifier ini pd setiap produk makanan yang akan dibeli. Kami sempat kaget, karena emulsifier juga digunakan pada roti tawar. Karena itu, kami sarankan kepada keluarga Muslim untuk memilih roti tawar dengan istilah “biological bread” (non-chemical additive). Tentu, resikonya harga lebih mahal (1/2 blok roti tawar jenis ini hampir 3 kali harga roti tawar dengan emulsifier lemak babi),tetapi yang penting halal.


Coba longok juga ke:

http://www.facebook.com/notes/asmaul-husna/halal-hare-gene-gitu-lho-1/301478474842
http://www.facebook.com/notes/asmaul-husna/halal-hare-gene-gitu-lho-2/301555364842
http://www.facebook.com/notes/asmaul-husna/halal-haree-gene-gitu-lho-3/301573429842
http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=327377476104
http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=360503879273

Selasa, 16 Februari 2010

Bekerja

Pengantar

Ikhlas dan sungguh-sungguh adalah kunci sukses bekerja. ''Be enjoy and relax'' dalam menjalani pekerjaan. Bekerja di bawah tekanan akan menguras power dan stamina.

Mengapa harus bekerja, adalah pertanyaan sederhana namun dalam maknanya. Ketika sedang menyelesaikan pekerjaan, kita dihadapkan pada pertanyaan, “Apa yang saya lakukan? Mengapa saya di sini dan harus bekerja? Cobalah pikirkan jika dalam 24 jam orang tidak perlu bekerja.

Mereka bekerja karena ingin memperoleh upah (uang). Jika uang bisa tumbuh dari pohon, atau setiap minggu ada hujan uang, sehingga setiap orang tidak kekurangan uang, sehingga orang bisa membeli apapun yang diinginkan. Lalu apakah orang masih perlu bekerja?

Kalau orang tidak perlu bekerja untuk mencari uang, lalu ketika kita ingin membeli sesuatu, siapa yang akan bekerja menjadi penjual, karena semua orang sudah berkecukupan uangnya. Naik pesawat mau berlibur ke luar kota, siapa yang menjadi pilotnya, dan siapa yang akan menjadi pramugari yang memberikan senyum manis, kalau semua orang tidak perlu uang?

Bekerja dengan Tujuan dan Saling Membutuhkan

Marilah melihat ke sekeliling kita. Ada komputer atau gadget lain untuk mengakses halaman ini. Tulisan ini dibuat dengan menggunakan komputer. Ahli komputer membuat komputer karena tidak semua orang bisa membuat komputer. Setiap orang memiliki kemampuan. Tidak ada yang bisa segalanya. Karena itu, kita bergantung dan memerlukan orang.

Bisa jadi orang bisa melakukan apa saja. Tetapi apakah punya waktu melakukannya? Menanam padi, membangun rumah, merakit komputer, membuat traktor, membuat mebeler, membuat kasur, menjahit pakaian, memasak, bisakah dalam waktu bersamaan? Petani belum tentu bisa membuat cangkul. Pandai besi belum tentu bisa menanam padi.

Orang bekerja adalah karena orang lain tidak melakukan segala hal. Memang harus ada pertukaran /exchange. Bekerja adalah aksi yang dilakukan agar orang terpenuhi kebutuhan buat diri dan orang lain. Ada upah diberikan untuk melakukan sesuatu yang kita perlukan. Demikian juga, kita melakukan sesuatu (bekerja) kepada orang lain untuk mendapatkan upah pula. Dari pemahaman dan pendalaman yang lebih lanjut ada beberapa alasan mengapa kita bekerja:

1. Merasa spesial bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain.
2. Berguna dan diperlukan orang.
3. Usaha untuk mencukupi kebutuhan sandang, papan, pangan, dan lifestyle.

Bekerjalah

Ada dampak bekerja yang menyenangkan bila itu dilakukan. Ia adalah semua hal yang membuat setiap manusia menyenanginya. Upah (uang) adalah salah satu akibat yang berjalan di belakang pekerjaan kita. Perhatikan perolehan kita bila bekerja:

• Spesifik memberdayakan kemampuan dan pengetahuan.
• Merasa berguna buat orang
• Menyibukkan diri dan mengisi waktu
• Proses kreatifitas
• Aktifitas atau tugas rutin
• Bertemu banyak orang
• Menemukan hal baru dan belajar lebih banyak
• Menikmati karya sendiri
• Tanda bertanggungjawab
• Mempengaruhi dan memberi wibawa diri dan orang lain
• Memberi peluang memiliki relasi yang lebih banyak
• Menolong orang lain
• Memperoleh imbalan (upah)
• Aktifitas fisik
• Memberikan kontribusi untuk masyarakat
• Mengatur jadual dan waktu aktifitas
• Memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga
• Peluang untuk berkembang
• Bisa dikenal dan disukai orang

Penutup

Banyak sekali alasan orang kenapa harus bekerja. Bayangkan bila tidak bekerja, walaupun tidak memerlukan uang karena cukup (dari warisan atau dari dividen saham, atau bunga deposito), tetapi tetap saja orang berusaha mencari kesibukan, entah itu jalan-jalan, berenang, berbincang-bincang dengan teman atau melakukan aktivitas. Bisa jadi anda membaca tulisan saya ini karena sedang tidak ada kerjaan, atau mengisi waktu dan mencari hiburan. Bekerjalah. Jadikanlah setiap atifitas hidup Anda berguna.

Kata Allah SWT, “Bekerjalah, maka Allah, Rasul, dan orang-orang Mukmin akan melihat hasilnya”. Jadi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, nanti Allah SWT dan orang-orang akan melihat dan menghargai kita. Kita boleh bertanya, apa jadinya bila uang tidak diperlukan dan semua serba gratis. Tidak perlu bayar listrik, telepon, internet, bensin, motor gratis, pakaian, rumah, makanan dan sebagainya serba gratis, lalu apa peran dari uang?

Bila sistem kehidupan berjalan normal, semua serba gratis karena negara menjamin semua kebutuhan warganya, maka tidak ada pekerjaan lain selalin setiap orang akan dipacu untuk bekerja dan menghasilkan karya untuk diri dan orang lain. Itulah yang pernah terjadi berabad-abad yang lalu, kala dunia diatur oleh sistem Islam. Ada Hadlarah (sistem kehidupan) dan Mahdaniyah (budaya dan hasil-hasilnya) yang berlaku di sana. Kita merindukan hal itu kembali. Bukankah sistem kehidupan yang sekarang adalah kacau balau dan telah berhasil menyengsarakan masyarakat?

Kamis, 31 Desember 2009

Ini Sebuah Rahasia




Pengantar

Tatkala Anda telah menikah, maka saatnya Anda menikmati hidup ini dengan penuh syukur. Syukur dan sabar tak mungkin dipisahkan. Bersabar menerima berbagai keanehan yang dilakukan oleh pasangan hidup. Aneh itu baru permulaan, insya Allah setelah paham, justru aneh itu membuat pendewasaan sejati.

Menikahi wanita adalah hal biasa. Tetapi tetap mencintai wanita yang dinikahi adalah hal luar biasa. Tidak mudah, memang, perlu sabar dan mulai memahami karakter pasangannya agar bertahan hingga ajal menjemput, utuh sampai bertemu kembali di Taman Firdaus.

Memang Beda

Lelaki dan perempuan memang beda. Kalau ada konsep yang mengatakan bahwa pria dan wanita sama, harus diberi hak dan kewajiban yang sama, maka konsep itu menyesatkan, jauh dari fitrah dan kodrat masing-masing. Coba simak beberapa perbedaan antara lelaki dan perempuan.

1) Dulu sekali, lelaki berburu dan melindungi, perempuan mengasuh dan menyusui. Mengasuh dan menyusui adalah tugas utama, tidak meninggalkan anaknya kepada pembantu.

2) Pria obyektif, wanita intuitif (menganalisa lewat nada suara dan tatapan mata). Pria merasa kesulitan jika berdusta. Sebab wanita memiliki mesin pendeteksi kebohongan bila dia menatap langsung mata pasangannya.

3) Sudut pandang mata pria sempit, kerucut di retina, dan mata pria kurang lebar, tidak seperti wanita. Wajar jika pria lebih fokus tapi kurang kreatif melihat wacana lain di sekitarnya. Pria sering gagal menemukan sesuatu, seperti menemukan gula yang terletak dengan sangat jelas di antara bumbu-bumbu dapur.

Sudut pandang mata pria sempit. Tatkala melihat wanita lain yang menggoda hasrat, maka kepala pria turut berputar mengikuti arah wanita tersebut. Belum tentu jatuh cinta, melainkan naluriah saja. Jangan khawatir, itu tidak berbahaya selama pria memiliki iman. Namun para bapak diperintahkan untuk menundukkan pandangan matanya.

Bukan berarti wanita tidak pernah melihat pria tampan. Sudut pandang luas melebar (hampir 180 derajat), menyebabkan wanita jarang kepergok memandangi seorang pria tampan. Celakanya ketika belanja mentega di supermarket, seringkali yang terbeli bukan hanya mentega, melainkan hal-hal menarik lainnya.

4) Otak wanita memiliki koneksi antara otak kiri dan kanan sekitar 30% lebih aktif dari pria. Wanita bisa berjalan, bicara, dan pakai lipstik dalam waktu bersamaan sekaligus. Tugas ibu rumah tangga cocoknya bagi wanita, bukan pria. Para bapak tidak akan mampu melakukan beberapa hal sekaligus: masak sambul ngasuh, sambil nyuci, sambil nyapu, sambil ngemil, bahkan sambil ngomel. Pria hanya bisa berkonsentrasi satu pekerjaan pada satu waktu. (Maaf) Pria jarang berbicara ketika sedang bercinta dengan istrinya. mungkin karena terlalu fokus.

5) Wanita suka bicara, pria seperlunya. Dua orang wanita bisa saling menelpon selama 1 jam, padahal mereka berdua baru saja pulang berlibur bersama selama satu minggu. Gosip lebih melekat pada diri wanita dibandingkan pria. Orang Madura bilang, bila beberapa wanita bertemu, tempat itu bisa menjadi pasar.

6) Wanita bicara dengan perasaan – baik positif maupun negatif, dan bahasanya hiperbolik. Jika wanita berkata, “Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, kau hanya mencintaiku ketika engkau menginginkan seks saja!” Maka tenang saja, tak perlu dibantah, sabar saja, tidak hanya Anda yang mengalaminya.

7) Wanita mendengar dengan perasaannya. Jika istri Anda mengajukan pertanyaan pilihan semisal, ”Suamiku, hari ini mau masak sayur asem atau sayur bening?” Jangan asal menjawab seperti, “Terserah kamu saja, deh!” Bisa jadi istri Anda bisa kecewa dengan jawaban “terserah”. Baginya, tidak ada “Sayur Terserah.” Namun jika Anda menjawab, “Sayur asem saja!” maka istri Anda bisa saja ngedumel, “Memang sayur bening bikinanku tidak enak ya... kok milihnya sayur asem melulu!” Padahal 10 kali tawarannya, Anda baru 5 kali memilih sayur asem.

Ketika terjadi penawaran yang mengharuskan si suami memilih, ada baiknya suami mengatakan, “O begitu ya, ada sayur asem dan sayur bening... memangnya kamu sudah nyiapain untuk masak sayur apa?” Jika ia menjawab, “Sayur Bening...!” Maka segeralah Anda memujinya, “Kebetulan saya juga sedang pengen makan sayur bening nih, apalagi sayur bening buatan kamu sangat unik sebab banyak kelebihannya dibandingkan sayur bening yang biasa!” (kalau bukan kelebihan garam, biasanya kelebihan air. Hehehe, tidak ada salahnya nyenengin istri).

8) Biasanya wanita memiliki ambang stres kecil, sedangkan pria cukup besar, terbatas bisa menampung masalah dalam hati dan pikirannya. Sehingga setelah melewati harinya, ia suka curhat pada suaminya di kala malam tiba. Berbahaya jika suami dalam kondisi stres juga, maka suaminya kadang enggan mendengarkan. Istri kalau stres cenderung berbicara dan mencari teman bicara, sedangkan suami kalau stres cenderung diam dan mencari ketenangan.

9) Bagi pria, keahlian, itu yang utama. Bagi wanita, kebersamaan, itu lebih utama. Itu sebabnya jika istrinya bersalah, seorang suami yang baik tidak langsung menghakimi. Ia Suami akan menunjukkan keberpihakannya dan mengatakan, “Mari kita hadapi bersama...”

10) Suami suka dipercaya dan menginginkan seks, sedangkan istri suka diperhatikan. Berikanlah kepercayaan penuh kepada suami Anda, “Saya yakin Kakanda bisa menyelesaikan semua masalah itu..!” Berikan juga perhatian pada istri. “Kanda itu cintaaa banget sama Dinda...” Ucapkanlah minimal seminggu dua kali. Tapi jangan ucapkan terlalu sering (misal setiap jam), dikhawatirkan maknanya jadi kurang mendalam lagi. Jangan ucapkan hanya kalau Anda sedang ada maunya.

Umumnya pria suka seks (istrinya adalah perhiasan terindah), sedangkan wanita suka diperhatikan (begitulah karakter perhiasan). Bagi wanita, seks adalah konsekuensi dari menikah, sedangkan pria berpikir bahwa menikah adalah konsekuensi dari menginginkan seks. Jika wanita lajang menyatakan “Aku mencintaimu!” kepada seorang pria, artinya banyak tafsirannya: “Aku bersedia menikah denganmu,” atau “Aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu,” atau “Aku ingin mendapatkan perhatianmu lebih banyak,” atau “Aku ingin dibelikan ini dan itu…” Tetapi jika seorang pria lajang menyatakan “Saya mencintaimu!” kepada seorang wanita yang belum menikah, maka artinya relatif sederhana yaitu “Aku ingin segera berhubungan seks denganmu!”

11) Pria humoris adalah yang pandai melontarkan humor, sedangkan wanita humoris adalah yang tertawa ketika pria melontarkan humor. Itu sebabnya, jika suami melontarkan humor, tolonglah untuk tertawa seikhlas mungkin Jangan pernah katakan "garing amat, sih". Sebab sejujurnya, seorang istri akan terlihat tambah menarik plus menggoda bagi suami jika ia menghargai humor-humor suaminya...

Kesimpulan

Lelaki menginginkan kekuasaan, prestasi, dan seks, sementara perempuan menginginkan hubungan yang harmonis, stabilitas dan cinta dari pasangannya. Kesimpulan lainnya, terserah saja. Mau percaya boleh, tidak percaya juga tidak apa-apa.

Senin, 14 Desember 2009

Manusia Kreatif

Pengantar

Menurut Mikhayl Csikszentmihalyi, seorang pakar kreatif yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menilai mereka karena individu kreatif memiliki kepribadian kompleks. Jika kepribadian manusia biasa umumnya cenderung ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’. Namun, kontradiksi itu hidup berdampingan dalam satu tubuhnya. Di bawah ini adalah sifat-sifat kontradiktif mereka.

Energik

Memiliki tingkat energi berlebih. Cenderung gila kerja (workchoholic). Tahan lama dalam bekerja dan berkonsentrasi tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi, misalnya. Tapi begitu selesai, mereka bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaganya; Dalam kondisi ini, di mata orang luar, mereka terlihat seperti orang termalas di dunia.

Cerdas

Umumnya cerdas, tetapi pada waktu lain bisa saja berpikir seperti orang yang paling bodoh dalam memandang sebuah persoalan. Mereka memecahkan masalah dengan berpikir divergen (beragam): mengeluarkan sebanyak dan beragam mungkin ide, tidak peduli betapapun bodoh kedengarannya.

Riang, Tekun dan Disiplin

Selalu terlihat riang gembira. Mereka juga disiplin dan tekun. Orang lainnya melihat dunia dengan kacamata super-serius, tapi justru mereka memandang bidang mereka seperti suasana taman ria. Mereka antusias bekerja sehingga terkesan seperti sedang bermain, padahal mereka bekerja keras mewujudkannya.

Imajinatif

Selalu penuh imajinasi dan fantasi mereka melambung, tetapi tetap berpijak pada realita. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain. Namun ide tersebut bukan sekedar mimpi. Ide ini adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan, sehingga orang lain bisa mengerti dan menikmatinya.

Introvert sekaligus Ekstrovert

Cenderung introvert dan sekaligus ekstrovert. Introvert adalah perilaku yang mengadaptasi nilai dari luar untuk dipakai sendiri. Sedangkan ekstrovert adalah perilaku seseorang yang perhatiannya tertuju kepada nilai-nilai eksterna dan berusaha mempengaruhi nilai-nilai yang ada di luar dirinya itu.

Pada kebanyakan orang, ada satu sifat yang mendominasi perilakunya sehari-hari. Tetapi baik introvert maupun ekstrovert, keduanya muncul dalam porsi setara pada orang-orang kreatif. Mereka menikmatinya, baik dalam pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total mereka ketika mengerjakan sesuatu.

Rendah Hati dan Bangga dengan Dirinya

Biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaian usahanya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan dari hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka fokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini, sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berarti bagi mereka. Dengan kata lain, yang mereka fikirkan adalah masa kini dan esok.

Androgini

Orang-orang kreatif adalah androgini; Androgini adalah sifat-sifat yang lebih cenderung kepada kejantanan. Pada lelaki kreatif, ia akan kelihatan lebih macho. Sedangkan pada perempuannya, ia lebih terlihat maskulin.

Mereka berusaha mendobrak batas-batas stereotipe gender. Lelaki kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibandingkan dengan lelaki lain yang tidak begitu kreatif. Sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ (cenderung keras kepala) dibandingkan dengan perempuan pada umumnya.

Berjiwa Pemberontak

Cenderung pemberontak, walaupun tetap menghargai tradisi lama. Tetapi mereka sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru. Mereka tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada;

Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasar (yang berdasarkan tardisi) untuk kemudian bisa menerabas (mendobrak)nya.

Super Semangat

Sangat bersemangat mendalami pekerjaan, tetapi juga obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka tidak gampang menyerah sebelum sempat mewujudkan ide mereka yang sulit dinyatakan. Mereka juga tidak akan menghasilkan sesuatu yang hebat tanpa terlebih dahulu mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.

Inovatif dan Terbuka terhadap Hal Baru dan Lebih Sensitif

Mereka terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka dan mendukung proses kreatif mereka. Tetapi juga membuat mereka sering gelisah dan bahkan menderita bila sesuatu yang tidak beres ada di sekitar mereka, bahkan terhadap kritik dan cemoohan terhadap hasil karya dan pencapaian mereka yang tidak dihargai sebagaimana mestinya. Hal-hal ini sangat mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa. Mereka lebih sensitif, tetapi bisa jadi sangat tidak perduli dengan apapun.