Sabtu, 06 Februari 2010

Reuni nan Seru

Sebulan penuh, bahkan mungkin lebih, woro-woro tentang mau ketemuan Kelompok Tiga (Kelomiga) Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor (IPB) Angkatan 18 (Tahun 1981) sudah diumumkan. Adalah Deisman Nasution, orang Batak kelahiran Aceh (tapi dia ngakunya orang Aceh. Yah, wajarlah kalau dia ngaku Aceh: dia lahir dan dibesarkan di Aceh sana, makan, tidur, buang air besar dan minum air tanah dari Aceh juga) yang sungguh bersemangat untuk menyelenggarakan pertemuan ini.

Di Facebook mulai ramai berseliweran nama-nama geng Kelomiga: Deisman Nasution, Lisda Fauziah Harapa,Andi Rusandi, Mirfano, Curie Pratiwi, Yetti Noorhayati, Nurul Bariah, Tete S. Marendra, Islisyah Asman, Isti Prawulandari, John Novarly, Yuniarti Uddin, Dian Mutiara, Joko Sulistiono, dan mungkin nanti akan menyusul yang lain.

Deisman mulai melakukan manuver. Terus terang untuk menyelenggarakan acara itu, pemrakarsa harus putar akal, siapa yang mau nalangi biayanya. Ketemulah satu nama: Mas Joyo Winoto (maaf, aku panggil dikau "mas") yang saat ini menjabat Kepala Badan Pertanahan Pusat. Ada empat orang yang mendatangi mas Joyo Winoto, yaitu Yetti Noorhayati, Deisman Nasution, Joko Sulistiono dan Dian Mutiara. Dari pertemuan itu, disepakatilah pertemuan akan diadakan tanggal 30 Januari 2010 di Ruang Meeting Danau Batur di Padang Golf Danau Bogor Raya (dulu namanya Bogor Lake Side).

Bertemu Juga Akhirnya

Pagi sekali aku sudah bangun. Kebetulan kakak sulungku dengan suami datang hari Kamis dari Yogjakarta (menghadari pernikahan ponakan di sana). Sabtu mau pulang. Jam 08.15 pagi kuantar beliau ke pool Damri yang berada di sebelah Gedung Alumni IPB, yang dipakai juga untuk ngumpul bagi yang berada di Bogor.

Mendekat jam 09.00, aku sudah berada di Gedung Alumni IPB. Masih sepi, tak seorangpun ada di sana, yang memang tinggal di Bogor, walaupun sudah disepakati untuk ngumpul di sana. Adalah Hanggoro dan Prasetyo Hadi yang ditugaskan Deisman Nasution sebagai tim "penyapu" untuk mengangkut rombongan Bogor.

Tapi lucu juga, ternyata berpisah selama 29 tahun telah memupus wajah asli anak manusia. Bayangkan aku tidak kenal lagi wajah Prasetyo Hadi. Padahal dia sudah datang, dan gawatnya, aku tidak kenal lagi dia. Diamput. Dia pergi, aku diam saja, wong ndak kenal. Untung kemudian datang Hanggoro, yang wajahnya tidak berubah dari dulu sampai kemarin itu. Hanya di kepalanya sudah bertebaran ubah yang rada lumayan banyaknya.

Aku, Hanggoro dan supirnya, meluncur ke lokasi sasaran. Sesampai di sana, aku dan Hanggoro mendapatkan ciuman pelukan dari semua orang. Duh, sumpah mati, tidak semua orang bisa kukenal. Tetapi sebagian besar masih terekam dalam memoriku. Maaf, Untad Dharmawan, aku lupa wajahmu. Soalnya dulu dikau kulitnya putih, tetapi sekarang sudah item dan ndut. Dia sendiri sama. "Tunggu dulu, kok saya lupa siapa dikau", katanya begitu. Kemudian aku dan Hanggoro mengisi daftar tamu. Aku dapat pin Kelomiga, buku Kelomiga, dan syal entah dapat sponsor dari mana bang Deisman (maaf aku latah panggi "bang" ke Deisman).

Di depan ruang meeting Danau Batur kami berbincang, bersenda-gurau, melepaskan rindu dendam yang tak terkatakan. Sudah 29 tahun tidak bertemu. Di sana si imut Iiin. Ada si rambut sarang lebah dengan celana jeansnya (tapi alhamdulillah, kepalanya sudah ditutup. Untung aku udah lihat dia di Facebook). Untad Dharmawan yang tidak mengenaliku lagi.

Tak berapa lama, muncullah sang "maestro" kita: Joyo Winoto. Subhanallah, wajah dan postur tubuhnya tidak berubah. Hanya dari dekat kulihat memang sudah beruban juga kepalanya. Sudah tua juga kita-kita ini, fikirku. Joyo Winoto menyalami dan memeluk kami satu demi satu. Entah apa yang ada di benaknya. Tapi kupastikan dia senang bukan kepalang.

Satu demi satu anggota Kelomiga datang. Ada Arif Hidayat, sang kartunis kita. Tapi aku sebel sama dia: jaga imeg dia. Sampai kemudian terkumpul orang yang agak banyak, barulah kita digiring masuk ke ruangan. Di dalam kita sudah disambut MC dan penyanyi. MC membacakan susunan acara. Kemudian berturut ketua panita dan Joyo Winoto maju ke depan untuk memberikan kata sambutan. Syukurlah, mereka tidak bertele-tele ngomongnya. Singkat-singkat saja untuk menghindari rasa boring. Kemudian berlanjut ke kesan dan pesan.

Bukan disebut warga Kelomiga kalau orang-orangnya tidak penuh canda. Ketika Hadi Susanto tampil, dari belakang dia diteriaki sebagai Bupati Lampung. Memang dia tinggal dan bekerja di Lampung, tetapi bukan Bupati. Kemudian Hadi bercerita tentang persaingan berebut pasangan (pacar) dengan Joko Sulistiono. Gila, ada dua cewek yang ditaksir, dan keduanya ditolak mentah-mentah. Kasihan, ya? Dia juga bercerita tentang kekagumannya kepada Joyo Winoto. "Aku dapat nilai 35 pada pelajaran kalkulus, Joyo Winoto dapat nilai 95", katanya. Ceritanya tentang sakitnya sebulan, sampai dia lulus dengan nilai 2,75 dan masuk ke Fakultas Teknologi Pertanian.

Ketika Joko Sulistiono bercerita tentang aktifitas ngamennya dengan Mirfano di Pasar Gembrong yang dilakukan usai jam-jam kuliah, lantas ingatanku terbang ke wajah Mirfano yang waktu itu kurus kering (seperti orang tidak makan sebulan) yang ke mana-mana bawa gitar. Sayangnya dia berhalangan hadir. Ada tugas kantor yang tidak mungkin bisa ditinggalkan (Ifan, ini aku hanya bisa bercerita ke elo via Facebook). Aku sendiri pernah ke rumahnya Ifan di bilangan Haji Jiung, Jakarta Pusat. Tapi bisa kupastikan, Ifan sudah melupakannya. Ketemu juga dengan Nurul Bariah. Tapi bukan Nurul Bariah yang dulu. Sekarang dia item tapi masih cakep dan keibuan, pake kerudung pula. Dulu kulit tubuh sempat kukagumi. Putih seperti pualam. Sungguh!

Menyanyi, menari, joged Malayu, canda dan tawa, acara kuis dan lomba, mewarnai jumpa geng Kelomiga. Seru tak terkatakan. Arlinda datang, Arlinda didaulat jadi penyanyi. Perempuan yang masih saja cantik di usianya yang tidak muda lagi menyapaku, tetapi mukanya berkerut mengingat-ingat siapa diriku. Dia 3 (tahun) di USA di Komisaris Jenderal (Komjen) di sana. "Aku batuk dan serak begini disuruh nyanyi", katanya bersungut-sungut. Tetapi kulihat raut wajahnya senang bukan kepalang.

Di akhir acara, dipilih kepengurusan Alumni Kelomoga. Terpilihlah Joko Sulistiono sebagai ketua, Wakilnya Prasetyo Hadi, Sekretaris Syifa Indani, Sekretaris I Sri Suhaity, dan Bendara II Yetti Noorhayati. Adalah Joyo Winoto yang akhirnya didaulat menjadi penasehat. Lengkaplah sudah kepengurusan Alumni Kelomiga.

Program waktu dekat ini adalah membuat Mailing List Kelomiga. Alhamdulillah, itu sudah dibuat oleh Ni Made Dewiyanthi (Yanthi Reddy). Kemudian Hetty diminta untuk membuat akun rekening di BCA (kebetulan dia ngantor di sana). Dia sudah fotokopi KTP Yetti Noorhayati untuk keperluan itu. Alhamdulillah, Joyo Winoto (Joko Sulistiono bisik-bisik ke saya bahwa Mas Joyo Winoto "nitip" uang untuk "modal awal" pembuatan rekening itu) mau menyisihkan uangnya ke kita-kita ini. Semoga rezekinya ditambahkan Allah SWT dengan yang lebih banyak dari "titipan" itu.

Di akhir acara, dengan formasi melingkar, kita menyanyikan lagu Kemesraan Iwan Fals. Di momen ini, campur aduk perasaan kami: senang, haru, sedih, gembira, dan entah apalagi. Tidak ada yang tahu persis perasaan teman-teman dengan acara reunian itu.

Pertanyaan Khusus untuk Mas Joyo Winoto

Saya sejak jauh hari ingin menanyakan bagaimana menguruskan surat tanah kebon saya yang lokasinya berada di Leuwi Liang sana (Desa Cibeber II). Di situ ada duan bidang tanah. Satunya lagi ada di Bekasi Timur. Itu yang ingin saya tanyakan. Tetapi suasananya kok kurang tepat. Mosok mau ketemuan, senang-senang melepaskan rindu, kok nanya yang gituan. Ndak sopan namanya. Tetapi kali ini saya beranikan diri bertanya.

Tanah itu ada tiga bidang. Yang satu kira-kira 2000 meteran, satunya lagi kira-kira 600 meteran. Yang lainnya ada 150 meteran. Sudah dibuatkan surat Akta Jualbelinya. Aku itu ingin membuatkan sertifikat hak milik. Aku sudah tanya, tetapi kok biayanya dipatok sekitar 9 (sembilan) jutaan. Wah, aku terus terang tidak punya uang segitu saat ini. Sekarang aku ingin tahu prosedural dan biaya yang harus dikeluarkan itu sebenarnya berapa besarnya. Atau, adakah program semacam Prona bagi pedesaan untuk saat ini? Maaf mas Joyo Winoto, saya tidak ingin aji mumpung. Saya ingin yang proseduralnya saja. Jangan ada keistimewaan buat saya. Yang wajar-wajar saja. Sekali lagi maaf.

Bagi teman-teman yang tidak hadir, inilah ceritaku. Untuk Curie, Lisda, Mirfano, dan yang lagi sakit, cepat sembuh dan bisa ngumpul dengan kami. Sebenarnya aku sendiri ingin kumpul dengan jumlah yang spektakuler. Hanya saja, tidak semua bisa datang. Ada yang sakit, ada yang tugas bekerja, ada yang tidak tahu keberadaannya di mana, dan ada yang sudah mendahului kita.

Any way and any time, sekitar bulan Juni-Juli nanti kita mau kumpul lagi di bilangan Pondok Gede. Rumahnya Yanthi Reddy bersedia dipakai untuk keperluan itu. Sekalian, katanya, perpisahan Yanthi Reddy, ikut suami ke Timur Tengah sana (Qattar? Hehehe, ternyata Yanthi bilang ke Oman. Maaf, telingaku terkadang suka error).

Mengapa?

Seorang biarawati tubuhnya tertutup dari kepala hingga ujung jari kakinya, ia dihormati karena membaktikan dirinya untuk Tuhannya. Tetapi mengapa seorang Muslimah melakukan hal yang sama, sering dicap sebagai makhluk yang "tertindas"? Sehingga ia perlu “dibebaskan”?

Seorang Yahudi bisa memelihara janggutnya. Ia dipandang sedang melaksanakan kepercayaannya. Tetapi mengapa seorang Muslim melakukannya ia dicap menyeramkan dan dijuluki sebagai seorang ekstrimis?

Seorang wanita Barat tinggal dan merawat rumah beserta anak-anaknya, ia dianggap sedang berkorban dan berbuat baik untuk rumahtangganya. Tetapi mengapa seorang Muslimah melaksanakannya, ia dianggap "perlu dimerdekakan?".

Seorang anak meraih keberhasilan pada suatu disiplin ilmu, ia dianggap berpotensi. Tetapi mengapa bila ada seorang anak Muslim membaktikan dirinya pada Islam, ia dianggap tak ada harapan dan tidak punya masa depan?

Seorang Kristen membunuh seseorang, agama tidak pernah disebut-sebut sebagai penyebabnya (contohnya teroris IRA). Tetapi mengapa jika seorang Muslim dituduh melakukan tindak kriminal, Agama Islam yang diadili?

Tetapi biarlah. Meski semua itu terjadi, Islam tetap sebagai agama yang berkembang tercepat di dunia? Itulah faktanya. Lihat saja, apakah setan bisa menghentikannya? Karena itu, ucapkanlah:

Subhaan-Allah
Alhamdu-Lillah
Allaahu-Akbar
Laa Ilaaha Illa-Allaahu Muhammadur Rasuulullah
Allaahumma Shalli `Alaa Sayyidinaa Muhammad-wa `Alaa Aalihi wa Shahbihii Wassallim


Kirimkan catatan ini kepada teman, saudara, dan handai-tolan kita. Percayalah, dalam beberapa waktu ke depan akan banyak orang berdoa kepada Allah dan RasulNya. Anda adalah penyebabnya .

Cinta Ukasyah

Subuh itu Rasulullah Saw sakit. Beliau tidak mampu mengimami sholat subuh. Namun, dari luar terdengar suara shahabat Bilal memanggil agar beliau memimpin solat subuh berjamaah. Beliau menyuruh bilal kembali ke masjid dan menyerukan agar Abu Bakar menggantikannya sebagai imam sholat. Abu bakar menolak dan berkata:

“Bilal, tolong sampaikan kepada Rasulullah Saw, aku tak berani menggantikannya menjadi imam sholat selama beliau masih hidup”.

Bilal kembali menemui Rasullulah Saw. Akhirnya, dengan kondisi sakit, Rasulullah Saw dengan dipapah Bilal, datang ke masjid. Lalu Bilal mengumandangkan azan subuh. Akhirnya subuh itu diimami Nabi Saw. Usai sholat subuh berjamaah, Rasululluah Saw berdiri di mimbar dan berkata:

“Shahabatku sekalian. Aku merasa bahwa waktuku tidak lama lagi di dunia ini. Untuk itu, maafkan semua kesalahan yang telah kulakukan, entah sengaja ataupun tidak disengaja. Bila ada di antara kalian pernah aku sakiti badan dan perasaannya, maka inilah saatnya kalian boleh membalasnya. Saya ikhlas”.

Suasana subuh itu tiba-tiba mengharubiru. Masjid menjadi hening. Mulai terdengar isak tangis para sahabat. Namun tiba-tiba seorang pemuda berdiri dan berteriak lantang:

“Wahai Rasulullah Allah. Aku pernah engkau sakiti”, ujar si pemuda. Dia adalah Shahabat Ukasyah Ra.

“Kapan itu dan bagaimana caraku menyakiti dirimu?” tanya Rasulullah Saw.

Si pemuda berkisah. “Ketika Perang Badar sedang berlangsung, saat itu engkau menunggang kuda. Aku berlari dekat kudamu, lalu engkau mencambuk kuda itu. Tanpa engkau sengaja, aku terkena cambukmu”.

Rasulullah Saw memaklumi. Beliau kemudian menyuruh Bilal mengambil cambuk miliknya. Tak berapa lama, Bilal membawa cambuk dan menyerahkan kepada pemuda itu.

“Anak muda, balaskan sakit hatimu. Cambuklah aku agar sakit hatimu terbalas”, ujar Rasulullah Saw.

“Waktu itu aku bertelanjang dada. Jadi, buka jugalah bajumu”, kata pemuda itu. Kemudian Nabi pun membuka bajunya. Subhanallah, seketika aroma wangi menyeruak dari tubuh Rasulullah Saw memenuhi ruangan Masjid.

Kemudian pemuda itu maju, hendak mencambuk Rasulullah Saw. Tetapi yang terjadi kemudian adalah, cambuk itu dicampakkannya, lalu ia memeluk erat Rasulullah Saw dari belakang. Para Shahabat terkesima. Tetapi sesaat kemudian terdengarlah ucapan “subhanallah” serentak.

“Kenapa engkau malah memelukku? Bukankah engkau hendak membalaskan sakit hatimu?”

“Maafkan aku. Aku telah berdusta dengan mengarang cerita tadi. Sesungguhnya aku ingin memelukmu saja. Hanya dengan cara begini, engkau mau membuka bajumu, sehingga kulitku yang hina ini bisa bersentuhan langsung dengan kulitmu yang sangat mulia ini”.

Para Shahabat meneteskan air mata. Mereka terharu melihat momen tersebut. Rasulullah Saw ikut terharu dan menangis.

“Sesungguhnya dialah salah seorang Shahabat yang akan menemaniku di Taman Firdaus. Dia mencintaku melebihi cintanya pada dirinya sendiri”.

Mereka berpelukan erat. Lalu para Shahabat lainnya berdiri. Di subuh itu mereka saling berpelukan dalam persaudaraan yang tak terkatakan oleh kita saat.


Rindu kami padamu ya Rasul
rindu tiada terperi
berabad jarak darimu ya Rasul
serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya suargawi
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja

(Bait Puisi Taufik Ismail yang dinyanyikan Grup Bimbo)

Sebuah Pesan

Anak-anakku
Aku punya pesan buatmu
sebelum ayah memejamkan mata,
peringatan dan kenangan buatmu

pandailah engkau dan jangan jahil,
jadilah pelindung alam dan selalu bernaung di bawah cahaya
jadilah ladang bagi masyarakat karena kayamu
Jika miskin jangan jadi pengemis
cari ridhoNya agar terpelihara akhlakmu.
Biarlah miskin di hadapan manusia, kaya di hadapan Allah

Jika jadi saudagar,
jauhi riba, betulkan timbangan, jujurlah dalam jual beli
jika perlu pertolongan dalam berniaga, mintalah kepada Allah

jika engkau pemimpin,
jadilah payung umat dan rendahkan sayapmu.
jika engkau dipimpin, serahkanlah kepada kebijaksanaan pemimpin.

Jika engkau menjadi pejuang agama ini,
buatlkan tali zikirmu agar selalu terhubung denganNya
dan hadapi semua musuh namun jangan melampaui batas

Jika engkau menderita, berserah dirilah kepadaNya
tabahlah menghadapi ujian dan cobaan
mudah-mudahan Allah sayang kepadamu
yang lebih besar daripada sayang seorang ibu kepada anaknya

Bertaubatlah kepada Allah
sebelum izrail datang memanggil
sebelum batas akhir perjalanan hidupmu
sebelum mentari tak bersinar lagi
sebelum jantungmu berhenti berdetak

Anak-anakku
Berpegang teguhlah kepada tali agama Allah.
Jadikanlah Al-Qur'an dan Al-Sunnah sebagai pedoman hidupmu

Bahaya Tidur Sambil Telentang

Menurut penelitian yang dilakukan oleh seorang Profesor ahli dari Jepang selama kehidupan manusia, yang berlangsung dari sejak lahir sampai umur kesempatan hidup, ditemukan sebuah kenyataan bahwa ternyata cara tidur kita selama ini keliru, yaitu kebiasaan tidur sambil telentang. Rekomendasi ahli itu adalah ia tidak menganjurkan untuk tidur dengan posisi tersebut.

Berikut ini perhatikanlah kutipan pernyataan dari Prof. Dr. Kojiro Warthon Kalemaja:

"Kalau Anda tidur, janganlah sekali-kali dengan posisi telentang, karena tidur sambil telentang bisa mengganggu kesehatan Anda. Beberapa survei yang telah dilakukan bertahun-tahun telah menghasilkan bukti yang akurat, yaitu akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

1. Susah bernafas
2. Tersedak
3. Pencernaan terganggu
4. Menyebabkan kematian

Saran


Hindari tidur sambil telen tang
Membaca sesuatu harus fokus (hehehe, apa hubungannya?).
Tidur sambil telen baut saja sudah setengah modar, apalagi sambil telen tang
Disarankan tidur sambil telen liur saja. Ini pekerjaan yang gampang.

Studi Al Qur'aan versi Kaum Liberalis

Oleh Henri Shalahuddin



Pengantar


Umat Islam menempatkan al-Qur'an sebagai sumber utama memahami cara berislam secara benar. Sejak generasi Sahabat hingga kini, para ulama bersungguh sungguh mendarmabaktikan hidupnya untuk menggali makna-makna yang terkandung dalam al-Qur'an. Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan dalam kitab-kitab tafsir secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontradiktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah 'Ulum al-Qur'an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur'an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah menuturkan:

“Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Landasan sanad ini secara konstan terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, dsb., selalu dijubeli masyarakat yang haus ilmu. Bahkan di saat-saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, namun tradisi ilmu tetap berjalan. Dalam suasana seperti itu, sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim masih terus bermunculan dan memberi konstribusi bagi peradaban manusia.

Nasib Studi al-Qur'an Kini

Meskipun di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih eksis memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi al-Qur'an, namun di beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam, justru kondisinya berbanding terbalik. Dengan alasan "objektivitas ilmiah", netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, studi Islam terlebih lagi studi al-Qur'an dikembangkan secara liar. Tradisi sanad dianggap ketinggalan dan dipandang sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.

Sebagai gantinya, hasil kajian tokoh-tokoh orientalis dan liberal dijadikan rujukan utama dalam studi Islam. Dalam kacamata mereka, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat (sosiologis). Maka muncullah studi Islam berprespektif gender, Syariat berbasis HAM, Quran untuk perempuan, Islam yang "ramah", dst. Bukan sebaliknya, yakni Gender dalam perspektif Islam, HAM berbasis Syariat, perempuan dalam al-Qur'an, dst. Sebab ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi realitaslah yang dinobatkan berkuasa untuk menentukan corak Islam kekinian.

Buku "Pengaruh dan Keutamaan Gender Dalam Kurikulum IAIN", adalah contoh kecil di antara gelombang pengeliruan studi Islam yang dilakukan para sarjana liberal. Buku ini merupakan kumpulan kurikulum studi Islam di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia yang terbit atas kerjasama dengan McGill CIDA. Sebagai contoh, misalnya Matakuliah "Ulum al-Qur’an I" (MKK, 2 SKS, semester II), dijelaskan bahwa hal-hal yang dikaji dalam perkuliahan antara lain persoalan wahyu, proses pewahyuan, sejarah teks al-Qur'an, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, teori evolusi syari'ah, dan kaidah-kaidah tafsir.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa: "Pendekatan dalam kuliah dilakukan sedapat mungkin berperspektif gender dengan mengemukakan berbagai contoh yang mendukung ke arah kesetaraan gender". Sedangkan tujuan matakuliah ini di antaranya: "Mahasiswa akan dapat menjelaskan situasi dan kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur'an diwahyukan sehingga mampu mengambil pesan moralnya".

Dengan menyimak uraian pendekatan di atas, maka dipahami bahwa ayat-ayat seperti QS. 2:228 dan 282, QS. 4:3, 11 dan 34, QS. 33:59, dst., yang biasa dituding sebagai biang kezaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsir ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat seperti QS. 2:187, QS. 4:124 & 129, QS. 9:71, dst., yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah, tekstual.

Sedangkan berkenaan dengan tujuannya, jika dicermati lebih jauh akan berpotensi untuk menolak legal formal aturan syariat yang tertuang dalam al-Qur'an. Karena hal tersebut mereka anggap bukan sebagai substansi dan pesan moral dari sebuah ayat. Asumsi ini dikuatkan dengan penekanan penjelasan tentang kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur'an diwahyukan pada abad 7M, yang berbeda dengan realitas yang berkembang saat ini.

Apalagi dalam jadwal topik-topik perkuliahan yang diajarkan menyebutkan bahwa Makki (ayat-ayat yang diwahyukan sebelum hijrah) bersifat universal, sedangkan Madani (ayat-ayat yang diwahyukan setelah hijrah yang banyak menyinggung masalah hukum Islam) bersifat temporal. Sementara untuk Metodologi tafsir al-Qur'an yang menjadi salah satu topik perkuliahan, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud. Seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor berkat keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat jumat dengan jama'ah campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Bahan Rujukan Memahami al-Qur'an

Liberalisasi al-Qur'an tidak dilakukan secara serampangan, sebaliknya ia adalah sebuah konspirasi dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Makar liberalisasi ini diprogram secara massif dan sistemik melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana Muslim yang qualified dalam mengelabuhi makna akidah dan syariat. Ungkapan ini mungkin dipandang bombastis, emosional dan provokatif. Tetapi kesan tersebut akan hilang jika mencermati buku-buku yang dijadikan bahan rujukan untuk matakuliah Ulum al-Qur’an I, di antaranya seperti Toward Understanding Islamic Law (Abdullahi Ahmad al-Naim), Wanita Dalam al-Qur'an (Aminah Wadud Muhsin), Perempuan Tertindas (Hamim Ilyas dkk), al-Kitab wa al-Qur'an (M. Syahrur), al-Risalah al-Saniyah (Mahmood Muhammad Toha), Mafhum al-Nas (Nasr Hamid Abu Zayd), Tafsir Kontekstual al-Qur'an (Taufiq Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean). Meskipun di samping itu, ada beberapa buku rujukan yang benar, namun jumlahnya sangat minor dan diletakkan di akhir.

Buku-buku rujukan yang kontroversial ini ditulis oleh para pemuja liberalisme radikal yang gemar mencetuskan pemikiran nyeleneh, bahkan beberapa di antaranya telah difatwa murtad, kabur dari negaranya dan ada yang dihukum mati. Kenyelenehan mereka jelas terlihat saat memunculkan gagasan bahwa al-Qur'an adalah produk budaya, mengingkari syariah, batasan aurat yang relatif dan berubah-ubah, menuduh bahwa mushaf yang ada sekarang ini adalah produk rekayasa politik Usman bin Affan r.a., sehingga diusulkan menerbitkan al-Qur'an Edisi Kritis, menghalalkan homoseksual, memberi stigma bahwa ciri utama Islam fundamentalis adalah mereka yang menolak menerapkan metode Kristen dan Yahudi (hermeneutika) untuk memahami al-Qur'an, dll.

Buku Aminah Wadud yang berkenaan dengan wanita dan al-Qur'an (Quran and Women) misalnya, tidak hanya dijadikan rujukan untuk matakuliah 'Ulum al-Qur'an saja, tapi juga digunakan sebagai dasar 5 matakuliah lainnya, seperti Ulum Hadis, Tafsir, Filsafat Hukum Islam, Masail Fiqh dan Aliran Modern Dalam Islam. Demikian halnya dengan karya Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas juga dijadikan rujukan untuk 6 mata kuliah, yaitu Ulum al-Qur'an, Ushul Fiqh, Fiqh, Masail Fiqh, Sejarah Peradaban Islam dan Ilmu Dakwah.

Ketimpangan seperti ini juga menjadi tradisi di banyak matakuliah kajian keislaman. Maka dengan menetapkan satu buku sebagai rujukan untuk bermacam-macam matakuliah, mengesankan bahwa liberalisasi studi Islam ternyata dilakukan secara tidak elegan dan toleran. Sebaliknya, ia dipenuhi pemaksaan, jumud, penuh intrik dan ambisi pribadi. Sebut saja misalnya buku "Argumen Kesetaraan Gender" karya Nazaruddin Umar, dinobatkan sebagai rujukan untuk 4 mata kuliah, yaitu Ulum al-Hadis, Tafsir, Ushul Fiqh, Studi Tokoh Sastra Arab. Padahal penulisnya sendiri bukanlah seorang pakar sastra Arab dan tidak memiliki latar belakang di bidang ini. Di samping itu, buku ini juga tidak ada kaitan khusus dengan kajian ilmu Hadits, apalagi ilmu ushul fiqh.

Uniknya lagi buku Membina keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam bingkai Sunah Nabi yang terbit atas kerjasama dengan Ford Foundation juga dijadikan sebagai rujukan untuk 3 matakuliah 'Ulum al-Hadis, Hadis dan Ilmu Dakwah. Padahal buku ini banyak menolak hadis-hadis yang tidak sejalan dengan paham feminisme Barat. Sebagai contoh, di antara isu yang dibahas dalam buku ini adalah mengkritik Hadits Nabi tentang ciri-ciri wanita salehah. Tiga ciri kesalehan wanita seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi, yaitu sikap menyenangkan pandangan suaminya, mematuhi perintahnya, dan menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya di saat suaminya pergi, malah dijadikan objek kemarahan. Baginya, Hadits ini dianggap tidak adil dan hanya berisi tuntutan sepihak terhadap perempuan.

Meskipun penulisnya mengakui bahwa hadits ini adalah Hadits yang sahih, tidak menyalahi al-Qur'an, tidak menyalahi amalan ulama salaf dan tidak bertentangan dengan akal sehat, tetapi penulisnya melarang kalau Hadits ini diamalkan apa adanya, secara semestinya dan tekstual. Sebaliknya, Hadits ini harus dipahami secara kontekstual-sosiologis. Karena kesalehan wanita itu relatif dan bisa berubah menurut tempat, zaman dan kebutuhan.

Penutup

Studi al-Qur'an adalah jantung studi Islam, karena memang semua ilmu keislaman bersumber darinya. Sifat kewahyuan al-Qur'an yang final dan universal, mempengaruhi karakter pendekatan studi al-Qur'an untuk tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek wahyu dan iman. Jika saja Rasulullah saat menerima wahyu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, misalnya beliau terlihat sangat takut dan minta diselimuti, terkadang dahi beliau bercucuran keringat padahal saat itu sedang musim dingin, terkadang nampak wajah beliau kemerah-merahan dengan suara yang tidak beraturan dan terkadang tubuhnya menjadi sangat berat, sampai-sampai paha Zayd bin Tsabit terasa mau patah ketika menahan kaki Rasulullah yang tiba-tiba kedatangan wahyu. Maka apakah layak seorang Muslim saat menggali kandungan al-Qur'an mencampakkan aspek kewahyuannya untuk ditukar dengan spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka purba sangka? Tidakkah merusak studi al-Qur'an berarti sebuah konspirasi memutuskan umat dari akar khazanahnya?! Wallahu a'lam wa ahkam bi l-sawab.

MencintaiMu

Inspirasi dari Anna Halim



MencintaiMu
Seperti hujan yang mengalirkan air sungai
Seperti kupu-kupu yang mencintai bunga
Seperti gelombang laut yang mencumbui daratan
Seperti lekatnya pasangan Rama dan Shinta

MencintaiMu
tidak ingin dengan bujuk rayu
apalagi dengan hasrat agar tersalurkan hawa nafsu

MencintaiMu
adalah merindukan sentuhan dan belaian kasih
Ada kecupan dan cumbuan yang indah, tulus dan suci
Lebih indah dari yang pernah kubayangkan

MencintaiMu
penuh letupan laksana api membara
mengalir seperti air yang dalam, tenang dan menghanyutkan

MencintaiMu
Pada keping di sujudku nan menggelora
namun tak pernah mampu menembus tulusnya cintaMu
hanya torehan di dada tentang cintaku padaMu
pada hebatnya badai dan ganasnya gelombang
Hingga tiba di tepian tak bertuan
sadar atau tidak aku tak perduli lagi