Senin, 21 Desember 2009

Berharap pada Seruan

Buat Putra Juragan




Sepotong dosa adalah penjajah bagimu
Ia menjadi segel pada catatan malaikat
mengikat abadi mengungkung dirimu di sana

Dosa demi dosa adalah deposit
Pertimbangan keputusan pengadilan di akhirat
kecuali bila engkau mau bertaubat
Allah SWT Mahapengampun

Segeralah bertaubat sebelum batas waktu tiba
Manfaatkan dan jagalah baik-baik pintu kehidupan
selagi ia masih terbuka lebar
karena bisa jadi sebentar lagi tertutup

Tabunglah kebajikan selama engkau mampu
Manfaatkan pintu taubat dan masuklah ke dalamnya
Ia masih terbuka lebar bagi siapapun

Isilah juga pintu do'a
Ia adalah pintu orang-orang shaleh
manfaatkanlah pintu yang penuh sesak itu
ia tetap lapang terbuka untuk siapa saja

Oh, Perempuan

(Kemuliaan Itu Milik Perempuan, Karena itu Jangan Cengeng)



Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah dan gelisah. Bahkan lelaki terkadang masih mencari satu dua lagi, walaupun sudah ada segala galanya. Di syurga semua ada, namun Nabi Adam As tetap merindukan bunda Siti Hawa. Ketahuilah bahwa kepada wanitalah seorang lelaki memanggil seruan ibu, isteri atau anak puterinya.

Konon mereka dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok tetapi untuk diluruskan oleh lelaki. Tetapi kalau lelaki yang tak lurus, mana mungkin mampu meluruskan mereka. Tak mungkin kayu bengkok menghadirkan bayang-bayang yang lurus. Karena itu, luruskanlah wanita dengan petunjuk dan panduan Allah. Karena mereka diciptakan oleh Mahapencipta memang begitu rupa.

Jangan jinakkan mereka dengan harta. Nanti mereka liar. Jangan hibur mereka dengan kecantikan. Nanti mereka justru menderita. Sebab, semua itu sifatnya antara dan sementara, dan tidak menyelesaikan masalah apapun. Lebih baik kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal. Di situlah kuncinya.

Bila akalnya setipis rambut, maka tebalkan ia dengan ilmu. Bila hatinya serapuh kaca, kuatkan ia dengan iman. Ketahuilah bahwa perasaan mereka selembut sutera. Bahkan akan lebih lembut lagi bila ia berhias dengan akhlak yang terpancar dari akidah dan syari’ahNya.

Hati lelaki terhibur dan bahagia walau mereka, para perempuan itu, tidak menjadi ratu kecantikan, presiden atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan kelemahan. Katakan bahwa itu bukan diskriminasi dari Tuhan. Sebab di sana justru ada kasih sayang Tuhan.Bukankah dari rahim perempuan terlahir lelaki negarawan, karyawan, jutawan dan profesi lainnya. Tidak ada superman tanpa superwoman.

Wanita yang lupa pada hakikat dirinya, ia tidak terhibur dan tidak bisa menghibur orang lain. Tanpa ilmu, iman dan amal, mereka tidak bisa diluruskan. Bahkan mereka justru yang membengkokkan. Ingatlah bahwa banyak lelaki yang dirusak perempuan, dan tidak sebaliknya. Sebodoh apapun perempuan, ia mampu menundukkan sepandai-pandainya lelaki.

Tetapi itu adalah perempuan yang tidak kenal Tuhannya. Mereka tidak kenal diri mereka, apalagi kenal hakikat lelaki. Akibat ulah merekalah, banyak kaum lelaki kehilangan sekretarisnya, anak kehilangan ibunya, suami kehilangan isteri, dan bapa kehilangan puterinya. Bila wanita menjadi durhaka, dunia jadi huru-hara. Bila tulang rusuk patah, tertusuklah dan menjadi rusak jantung, hati dan limpa. Darah akan mengucur deras dari sana.

Ingatlah wahai para lelaki, jangan hanya mengharap ketaatan tetapi berusahalah bina kepemimpinanmu. Pastikan bahwa sebelum memimpin seorang perempuan, pimpinlah dirimu menuju Allah. Jinakkan dirimu, pasti akan jinak semua yang berada di bawah kepemimpinanmu. Jangan berharap istri seperti Siti Aisyah atau Fatimah Az Zahra bila pribadi belum mau meniru pribadi Rasulullah Saw atau setara dengan Sayyidina Ali Ra. Mengapa kaum lelaki tidak hendak menggapainya? Jika mau, pasti bisa. Mengapa tidak?

Berani tanpa Merasa Takut

(HIdup Hanya Sekali untuk Berlomba Berbuat Kebaikan)




Ia berani melompat sementara yang lain hanya beridiri
Mereka itu miskin keberanian dan tak punya azam
menuju Engkau keputusan diambil

Melompat menemui duniaMu
yang luas, lapang dan penuh harapan
bukan karena keangkuhan tetapi karena Kau memintaku berani
Bismillah

janjiMu tak pernah ingkar dan tak pernah tertukar
Ingatlah selalu bahwa perasaan kita terkadang ada bersama was-was setan
bahwa selama masih bernafas manusia berteman dengan masalah

Woo,
jangan bilang sama Tuhan kalau punya masalah besar
tetapi bilang sama masalah bahwa saya tidak takut
karena saya punya Tuhan yang Mahabesar

Masalah jangan dicari
tetapi ketemu masalah jangan lari
Serahkan nampan masalah di haribaanNya
biarlah Dia yang mengisinya dengan penyelesaian terbaik

Kalung Mutiara buat Annisaa'

Sore itu Annisaa’ menemani Ibunya berbelanja di supermarket. Ia berjalan kian kemari dengan riang. Wahana belanja perkotaan saat itu sungguh ramai. Bahkan menunggu membayar belanjaan pun harus antri. Tanpa sengaja gadis kecil itu berbinar melihat sebentuk kalung mungil terbuat dari mutiara buatan. Tetapi dalam pandangan Annisaa’, kalung itu mungil, cantik dan diletakkan di dalam kotak hitam dari kartun tebal.

Ia menginginkannya. Tetapi ia ingat bahwa ia tidak boleh minta selain yang sudah disepakati ketika akan berangkat berbelanja. Kaos kaki berenda, buku gambar, pensil warna dan biskuit. Entah mengapa Annisaa’ sangat menginginkan kalung itu. Ia beranikan diri untuk bertanya:

"Ibu, bolehkah Annisaa’ minta dibelikan kalung itu? Kaos kaki ini dikembalikan saja”.

Sang Bunda meraih kotak kalung itu. Di baliknya tertera harga Rp 25,000. Mata Annisaa’ memandangi ibunya dengan penuh harap. Ibunya bisa saja membelikan kalung itu. Namun ia ingin konsisten dengan kesepakatan semula.

"Baiklah, kalung itu boleh kamu ambil. Tetapi kaos kaki itu kembalikan ke tempatnya. Ibu akan potong uang jajan dan tabungan untuk sepekan ke depan. Bagaimana, setuju?”

Annisaa’ gembira. Ia tidak perduli kalaupun uang jajan dan tabungannya untuk sepekan ini harus dipotong. Segera ia berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

"Terima kasih, ibu".

Kotak kalung mutiara itu didekapnya erat-erat. Menurutnya, kalung itu dapat membuatnya cantik, secantik ibunya. Sejak dibeli, kalung itu tak lepas dari lehernya. Bahkan ketika ia tidur. Benda itu hanya dilepasnya jika ia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah kalung itu akan rusak dan menjadi hijau.

@@@@@@@@

Setiap malam sebelum tidur, ayah Annisaa’ membacakan cerita pengantar tidur. Selesai membacakan sebuah cerita, ayahnya bertanya:

"Apakah Annisaa’ sayang sama ayah?"
"Tentu. Ayah pasti tahu kalau Annisaa’ sayang ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada ayah kalung mutiaramu”.
"Jangan. Kalau yang lain”, sambil meraih boneka kuda pemberian neneknya, “yang ini, boleh Ayah ambil. Ini juga boneka kesayanganku”.
“Boleh juga, yang ini juga boleh”.

Ayahnya mencium pipi Annisaa’ sebelum keluar dari kamar. Sepekan kemudian sang ayah mengulangi lagi rentetan pertanyaan itu. Tetapi kali ini ia hanya membawa boneka Barbie. Padahal boneka itu juga mainan kesayangan anaknya yang selalu menemaninya bermain.

Sepekan berikutnya, ayahnya mendapatkan anaknya sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ia melihat anaknya menangis. Salah satu tangannya menggenggam sesuatu, air mata membasahi pipinya.

"Kenapa menangis, sayang?”

Tanpa berucap sepatah pun, Annisaa’ membuka tangannya. Di sana tergenggam kalung mutiara kesayangannya.

"Ambillah kalung ini”, ujarnya.

Ayahnya tersenyum. Kalung itu diambilnya, lalu dimasukkan ke dalam kantong celana. Namun dari kantong celana yang sebelah lagi, beliau mengeluarkan kotak mungil berwarna merah. Di dalamnya ada kalung mutiara yang sangat cantik.

“Ini kalung pengganti buatmu. Ia asli mutiara. Ayah belikan untukmu. Kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau".

Annisaa’ gadis kecil itu menghamburkan pelukan dan ciuman ke pipi ayahnya. Ia sungguh senang dan bahagia malam itu. Bahkan ketika tertidur, kalung itu melekat di lehernya. Malam itu ia bermimpi bertemu dengan para bidadari cantik yang mengelilingi dirinya.

@@@@@@@

Terkadang Allah SWT meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan menggantikannya dengan yang lebih baik. Seperti Annisaa’, misalnya, yang menggenggam erat sesuatu yang dianggapnya amat berharga. Boleh jadi ia enggan dan tidak ikhlas bila harus kehilangan sesuatu yang disukai dan dicintainya. Padahal, cepat atau lambat, apa saja yang ada pada diri kita akan selalu berganti atau malah hilang dari genggaman.

Kiranya Allah SWT selalu mengingatkan bahwa semua milikNya tentu akan kembali kepadaNya. Perlu sikap ikhlas seperti yang dilakukan gadis kecil Annisaa’ . Karena Dia, Allah SWT, akan mengambil sesuatu dari kita. Atau, bisa jadi Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik, di dunia atau di akherat kelak.

Ditampar

(Berfikirlah daripada mengedepankan perasaan apalagi feeling)



Seorang Pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Di rumah orang tuanya dia minta kepada ibu bapaknya mencarikan guru agama, Kyai atau siapa saja yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Dengan susah payah, akhirnya orang yang dimaksudkan ditemukan. Ia seorang Bapak yang berpenampilan bersahaja.

@@@@@@@@

(Pemuda): Apakah bapak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

(Bapak): Saya hamba Allah yang dengan izinNy akan saya jawab pertanyaanmu.

(Pemuda): Anda yakin? Bahkan seorang Profesor pun, dan orang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

(Bapak): Akan saya coba semampu saya.

(Pemuda): Ada tiga pertanyaan:

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepadaku.
2. Apakah yang dinamakan takdir.
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa mereka dimasukkan ke dalam neraka yang dibuat dari api, yang tentu saja tidak menyakitkan buat setan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?

Tiba-tiba Bapak itu menampar pipi si pemuda dengan keras.

(Pemuda): (Sambil menahan sakit). Kenapa marah?

(Bapak): Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga pertanyaanmu tadi.

(Pemuda): Saya sungguh-sungguh tidak mengerti?

(Bapak) : Bagaimana rasanya tamparan saya?

(Pemuda): Sangat sakit.

(Bapak) : Percaya bahwa sakit itu ada?

(Pemuda): Ya!

(Bapak): Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!

(Pemuda): Tidak mungkin bisa.

(Bapak): Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua “merasakan” wujud Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

(Bapak): Apakah tadi malam bermimpi akan ditampar seseorang?

(Pemuda): Tidak.

(Bapak) : Apakah pernah terpikir olehmu akan menerima tamparan dari saya hari ini?

(Pemuda): Tidak.

(Bapak) : Itulah yang dinamakan takdir. Tidak seorangpun akan tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Kita baru mengetahui setelah kejadian berlangsung. Itulah jawaban pertanyaan kedua.

(Bapak): Terbuat dari apa permukaan tangan yang saya gunakan untuk menamparmu?

(Pemuda): Kulit.

(Bapak) : Terbuat dari apa permukaan pipimu?

(Pemuda): Kulit.

(Bapak) : Bagaimana rasanya ditampar?

(Pemuda): Sakit.

(Bapak): Walaupun setan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, tetapi jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan. Itu jawaban saya untuk pertanyaan ketiga.

Prof. Dr. HM. Rasjidi

Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang

Oleh Nuim Hidajat,
Kandidat Doktor di Institut Alam dan Tamadun Melayu,
UKM Malaysia




Pengantar


Senin (14/12), Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Bahtiar Effendy mengadakan acara penganugerahan kepada Nurcholish Madjid dan Harun Nasution (serta Fachry Ali) atas sumbangannya kepada ilmu pengetahuan di Indonesia. Menteri Agama hadir dalam acara itu Acara itu juga dimuat di Harian Republika, tanggal 15 Desember 2009.

Dalam kesempatan tersebut, Dawam Rahardjo telah 'merendahkan' Rasjidi seraya mengagung-agungkan Nurcholish dan Harun Nasution. Bagaimana sosok seorang Rasjidi sebenarnya?

Sinisme Seorang Dawam Rahardjo

“Sebenarnya banyak orang yang kecewa, seperti yang saya dengar sendiri langsung dari kalangan IAIN, mengapa ia, dengan latar belakang pendidikan seperti itu, hanya puas dengan menerjemahkan buku, padahal pekerjaan itu dapat dilakukan oleh orang lain dengan mutu yang sama profesionalnya? Betapapun dinilai banyak kelemahannya, Harun Nasution telah mengarang paling tidak enam buku yang berharga untuk dibaca, yang memberikan interpretasinya sendiri tentang filsafat, agama dan Islam. Demikian pula Nurcholish Madjid telah menyeleksi bahan-bahan dari Khasanah Intelektual Islam dengan uraian penilaian yang kritis dan baru, baik dalam cara maupun isinya.”

Demikian kritik Prof. Dawam Rahardjo pada Rasjidi pada buku 70 Tahun Prof Dr HM Rasjidi. Meski Dawam kemudian meneruskan tulisannya bahwa Chairil Anwar pun juga menerjemahkan karya-karya puisi asing, di samping mencipta puisi sendiri, tapi di kalimat itu jelas terlihat bahwa Dawam berniyat meninggikan Harun Nasution dan Nurcholish Madjid serta ‘merendahkan’ Rasjidi. Karya Nurcholish memang kaya referensi, tapi ia mempunyai kesalahan fundamental dalam bidang aqidah. Karyanya ibarat gedung yang mengagumkan banyak orang karena interiornya yang bagus, tapi pondasinya retak dan rapuh, sehingga sewaktu-waktu bisa jadi bangunan itu runtuh. Hanya ahli bangunan yang berpengalamanlah yang dapat melihat kerapuhan gedung itu.

Ahli Bangunan

Mungkin di sinilah peranan Prof Rasjidi sebagai ‘ahli bangunan’ yang telah berpengalaman internasional dalam mendidik mahasiswa dan manusia-manusia Islam. Pengalaman intelektual Rasjidi di Al Azhar Mesir, McGill Kanada, Sorbonne Perancis, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain menjadikan dirinya saat itu melawan dan menulis kritikan keras kepada pemikiran-pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Rasjidi tahu bahaya pemikiran keduanya. Dan memang seorang ‘alim’ (ulama/intelektual Islam) seringkali mengetahui, melihat apa yang tidak dilihat oleh orang ‘jahil’.

Rasjidi menulis buku Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisme dan buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Tentang buku Harun Nasution, Rasjidi menyatakan: “Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

Siapa Rasjidi?

Kini timbul pertanyaan siapa Rasjidi? Rasjidi, yang nama kecilnya Saridi, lahir di Kotagede Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H. Ia anak kedua dari Bapak Atmosugido. Ia menempuh sekolah dasar di Muhammadiyah Yogyakarta. Rasjidi kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, di kota Malang, di bawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati. Semangat mencari ilmunya makin tinggi, karena yang mengajar di situ bukan hanya guru-guru dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.

Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama. Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab –mampu menghafal Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun —menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”

Belajar dari Mesir Hingga ke Perancis

Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Ketika di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) juga ia diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. Sehingga kemudian Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz.

Penulis Soebagijo IN menceritakan:

“Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary, pengarang Tafsir al Jawahir yang masyhur, serta sahabat karib Sjekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III)...Rasjidi diuji untuk masuk kelas V. Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Perancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”

Ia kemudian melanjutkan ke Universitas al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence. Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan.

Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l'Evolution de l'Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).

Perannya di Tanah Air dan Amal yang Ditinggalkannya

Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University.

Rasjidi menulis buku dan menerjemahkan buku-buku yang bermutu yang ia temui ketika belajar atau bertugas di luar negeri. Karya-karya asli Rasjidi antara lain : Islam Menentang Komunisme, Islam dan Indonesia di Zaman Modern, Islam dan Kebatinan, Islam dan Sosialisme, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, Agama dan Etik, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Hendak Dibawa Kemana Umat Ini? Sedangkan karya terjemahnya antara lain: Filsafat Agama, Bibel QurĂ¡n dan Sains Modern, Humanisme dalam Islam, Janji-janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat.

Rasjidi, yang murid-muridnya kini banyak tersebar di Indonesia, telah meninggalkan warisan perjalanan hidup dan karya tulis yang berharga bagi kita. Adakah kita mengambil pelajaran dari liku-liku kehidupannya?*

Tipudaya Iblis dan Syaitan

Pengantar

Besok, tahun baru Hijriyah telah menanti kita. Plus minus telah terjadi dan menimpa diri manusia. Bagi yang sadar, tahun baru akan dijadikan ajang renungan tentang apa saja telah dilakukan yang membuat Allah SWT menyayangi kita. Tetapi bagi yang tidak mau tahu, tahun baru itu akan berlalu begitu saja.

Di bawah ini ada hal-hal yang perlu diketahui oleh setiap Muslim tentang perilaku Iblis, tipudayanya, kelicikannya, dan segala keburukan yang bisa jadi akan ditimpakan kepada kita. Mudah-mudahan berguna sebagai pedoman hidup. Insya Allah.

Dialog Nabi Saw dengan Iblis Laknatullah

Ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw di kediaman salah seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu rumah. Kemudian terdengar suara orang dari luar rumah:

(Iblis Laknatullah): Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku. Aku akan menyampaikan banyak hal kepada kalian.
(Nabi Saw): Itu Iblis laknatullah. Laknat Allah bersamanya.

Mengetahui bahwa itu Iblis, Umar ingin membunuhnya.

(Nabi Saw): Sabar, wahai Umar. Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memberinya kesempatan (bertobat atau sesat) hingga hari kiamat? Bukakan pintu untuknya. Aku telah mengetahui bahwa ia telah diperintahkan oleh Allah untuk datang ke sini. Fahamilah apa yang hendak ia katakan. Dengarkan dengan seksama.

Pintu lalu dibuka oleh Ibnu Abbas Ra. Seorang kakek cacat satu mata berdiri di sana. Janggutnya hanya 7 helai, mirip rambut kuda. Bertaring, mirip taring babi. Bibirnya seperti bibir sapi.

(Iblis Laknatullah): Salam untukmu Muhammad. Salam untuk yang hadir.
(Nabi Saw): Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?
(Iblis Laknatullah): Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.

(Nabi Saw): Siapa yang memaksamu?
(Iblis Laknatullah): Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata kepadaku:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad, merendahkan dirimu, sambil memberitahu kepadanya caramu menggoda manusia. Jawab dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, jika berdusta satu kali saja, maka Allah membuat dirimu menjadi debu yang ditiup angin.”

Sekarang aku ada di hadapanmu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sebuah kemalanganpun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.

Orang Yang Dibenci Iblis

(Nabi Saw): Kalau kau benar jujur, manusia mana yang paling kau benci?
(Iblis Laknatullah): Kamu, kamu dan orang sepertimu (sambil menunjuk Nabi Saw dan shahabat) adalah mahkluk Allah yang paling kubenci.

(Nabi Saw): Siapa selanjutnya?
(Iblis Laknatullah): Pemuda bertakwa yang mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.

(Nabi Saw): Siapa lagi?
(Iblis Laknatullah): Orang Alim (ilmuan) lagi wara’ (loyal kepada ajaran Islam).

(Nabi Saw): Siapa lagi?
(Iblis Laknatullah): Orang yang selalu bersuci (jiwa dan tubuhnya).

(Nabi Saw): Siapa lagi?
(Iblis Laknatullah): Seorang fakir sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.
(Nabi Saw): Apa tanda kesabarannya?
(Iblis Laknatullah): Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, maka Allah SWT memberikan pahala kepadanya.

(Nabi Saw): Selanjutnya siapa lagi?
(Iblis Laknatullah): Orang kaya yang bersyukur.
(Nabi Saw): Apa tanda-tanda kesyukurannya?
(Iblis Laknatullah): Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya (yang halal), dan mengeluarkannya (dengan rela dan ikhlas) juga dari tempatnya.

(Nabi Saw): Menurutmu, seperti apa Abu Bakar?
(Iblis Laknatullah): Ia tidak pernah mau menuruti ajakanku pada masa jahiliyah, apalagi ketika sudah masuk Islam.

(Nabi Saw): Kalau Umar bin Khattab?
(Iblis Laknatullah): Demi Allah, setiap berjumpa dengannya aku takut sekali. Aku pasti kabur menghindarinya.

(Nabi Saw): Bagaimana dengan Usman bin Affan?
(Iblis Laknatullah): Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.

(Nabi Saw): Ali bin Abi Thalib?
(Iblis Laknatullah): Aku berharap kepalaku selamat (tidak lepas), menghindarinya, dan ia mau melepaskanku. Tetapi ia tidak mau melakukannya.(Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT).

Amalan yang Menyakiti Iblis

(Nabi Saw): Apa yang kau rasakan ketika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?
(Iblis Laknatullah): Aku merasa panas dingin dan gemetar.
(Nabi Saw): Kenapa?
(Iblis Laknatullah): Setiap hamba bersujud sekali kepada Allah, Allah meninggikan derajatnya satu tingkat.

(Nabi Saw): Jika seorang umatku shaum?
(Iblis Laknatullah): Tubuhku terasa terikat erat sampai ia berbuka.

(Nabi Saw): Jika ia berhaji?
(Iblis Laknatullah): Aku seperti orang gila.

(Nabi Saw): Jika ia membaca Al Qur’aan?
(Iblis Laknatullah): Aku merasa meleleh laksana timah yang dibakar di atas api.

(Nabi Saw): Jika ia bersedekah?
(Iblis Laknatullah): Orang tersebut seperti membelah tubuhku dengan gergaji.
(Nabi Saw): Mengapa bisa begitu?
(Iblis Laknatullah): Dalam sedekah itu ada 4 keuntungan baginya: (1) keberkahan pada hartanya, (2) hidupnya disukai (banyak orang), (3) sedekah itu kelak menjadi hijab dirinya dengan api neraka, dan (4) segala musibah terhalau dari dirinya.

(Nabi Saw): Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?
(Iblis Laknatullah): Suara ringkikkan dan derap kaki kuda ketika perang jihad di jalan Allah.

(Nabi Saw): Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?
(Iblis Laknatullah): Taubat orang yang bertaubat.

(Nabi Saw): Apa yang dapat membakar hatimu?
(Iblis Laknatullah): Istighfar yang dilantunkan siang dan malam.

(Nabi Saw): Apa yang dapat mencoreng wajahmu?
(Iblis Laknatullah): Sedekah yang dilakukan diam–diam.

(Nabi Saw): Apa yang dapat menusuk matamu?
(Iblis Laknatullah): Shalat fajar (Shubuh).

(Nabi Saw): Apa yang dapat memukul keras kepalamu?
(Iblis Laknatullah): Shalat berjamaah.

(Nabi Saw): Apa yang paling mengganggu fikiranmu?
(Iblis Laknatullah): Majelis (bertemunya) para ulama (merembukkan suatu kebaikan).

Kebiasaan Hidup dan yang Menjadi Teman Iblis

(Nabi Saw): Bagaimana cara makanmu?
(Iblis Laknatullah): Dengan jari-jari tangan kiriku.

(Nabi Saw): Di manakah kau menaungi anak–anakmu pada musim panas?
(Iblis Laknatullah): Di bawah kuku manusia yang kotor.

(Nabi Saw): Siapa temanmu?
(Iblis Laknatullah): Pemakan riba.

(Nabi Saw): Siapa sahabatmu?
(Iblis Laknatullah): Pezina.

(Nabi Saw): Siapa teman tidurmu?
(Iblis Laknatullah): Pemabuk.

(Nabi Saw): Siapa tamumu?
(Iblis Laknatullah): Pencuri.

(Nabi Saw): Siapa utusanmu?
(Iblis Laknatullah): Tukang sihir.

(Nabi Saw): Apa yang membuatmu gembira?
(Iblis Laknatullah): Orang yang bersumpah palsu dan perceraian (suami istri).

(Nabi Saw): Siapa kekasihmu?
(Iblis Laknatullah): Orang yang meninggalkan shalat Jum’at.

(Nabi Saw): Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?
(Iblis Laknatullah): Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.

Orang Ikhlas Membuat Iblis Tak Berdaya

(Rasulullah Saw lalu bersabda): Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.

(Iblis Laknatullah segera menimpali): Tidak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari kiamat. Bagaimana kalian bisa bahagia, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tidak melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari kiamat, aku akan menyesatkan mereka. Yang bodoh, yang pintar, yang bisa membaca dan yang buta huruf, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.

(Nabi Saw): Siapa orang yang ikhlas menurutmu?
(Iblis Laknatullah): Tidakkah kau tahu wahai Muhammad bahwa siapa saja yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak suka dinar dan dirham, tidak suka pujian sanjungan, aku bisa pastikan ia orang ikhlas. Maka aku akan meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta, sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, boleh jadi ia nantinya sangat patuh padaku.

Iblis Dibantu 70.000 Anaknya & Syaithan Menggoda Manusia

(Iblis Laknatullah): Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku punya 70.000 anak. Setiap anak dibatu 70.000 syaithan. Sebagian aku tugaskan mengganggu ulama. Sebagian menggangu anak muda. Sebagian menganggu orang tua. Sebagian menggangu wanta tua. Sebagian anakku kutugaskan kepada para zuhud (yang mencintai akhirat daripada dunia).

Ada anakku yang suka mengencingi telinga manusia yang menyebabkan orang itu tertidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

Ada anakku yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama. Mereka lalu tertidur dan pahalanya terhapus.

Ada anakku yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan, kemudian ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap wanita yang berjalan di luar rumah, anakku dan syaithan pendampingnya duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar orang-orang memandanginya. Syaithan berkata kepada perempuan itu agar mengulurkan tangannya. Perempuan itu mengeluarkan tangannya, lalu syaithan menghiasi kukunya.

Anak–anakku meyusup dan berubah bentuk dari satu kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lainnya, untuk menggoda manusia sampai mereka terhempas dari rasa ikhlas mereka. Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa keikhlasan, namun mereka tidak merasa. Tahukah kamu, Muhammad, bahwa ada seorang rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh dari penyakitnya seketika. Tetapi aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku? Akulah mahluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku. Siapa saja yang bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau Muhammad, aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar–benar menasihatinya? Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gossip) dan Namimah (adu domba) adalah kesenanganku. Kesaksian palsu adalah kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa, walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab siapa saja yang membiasakan dengan kata–kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat, maka semua anak–anaknya itu adalah anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kata itu: Cerai.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur waktu shalatnya. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya bahwa waktu masih panjang, kamu masih sibuk. Lalu ia manundanya sampai akhirnya ia melaksanakan shalat di luar waktu. Shalatnya itu akan dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, kubiarkan ia shalat. Namun kubisikkan ke telinganya: ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. Kuusap pula dengan tanganku dan kucium keningnya seraya membisikkan ket telinganya: ’shalatmu tidak sah’ Bukankah kamu tahu Muhammad, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul mukanya nanti. Jika ia shalat sendirian, kusuruh dia bergegas. Shalatnya pun seperti ayam yang mematuk beras.

Jika ia berhasil mengalahkanku lalu ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam melakukannya. Kamu tahu bahwa melakukan hal seperti itu bisa membatalkan shalatnya dan kelak wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai?

Jika ia berhasil mengalahkanku, kutiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya, syaithan akan masuk ke dalam dirinya. Di dalam sana akan kubuat ia bertambah serakah dan gila dunia. Ini akan membuat dirinya semakin taat kepadaku.

Kebahagiaan apa yang engkau dapatkan, sementara aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat.Kukatakan padaknya: ‘kamu tidak wajib shalat. Shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak perlu sholat. Jika kehidupanmu telah berubah baru kamu wajib shalat’. Jika ini terjadi, ia mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat, maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, demi yang menciptakanku jika aku berdusta maka Allah akan menjadikan aku debu. Bagaimana mungkin engkau bisa bergembira dan bangga dengan umatmu sementara seperenam dari mereka kukeluarkan dari islam?

Sepuluh Permintaan Iblis kepada Allah SWT

Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?
Ada 10 macam.
Apa saja itu?

Pertama
Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka. (Tetapi) tidaklah janji setan kecuali itu semua tipuannya” (QS Al-Isra :64)

Aku akan makan dari harta yang tidak dizakatkan. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Kumakan juga dari makanan yang tidak dibacakan atas nama Allah.

Kedua
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya tanpa berlindung kepada Allah. Setan akan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Ketiga
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan yang berjalan bukan untuk tujuan yang halal.

Keempat
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.

Kelima
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.

Keenam
Aku minta agar Allah menjadikan syair (dari penyair) sebagai Qur’aanku.

Ketujuh
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.

Kedelapan
Aku minta agar Allah memberikanku saudara, yaitu orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat. Allah berfirman,

“Orang -orang boros adalah saudara–saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).

Kesembilan
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku (dengan seizing Allah SWT, hanya sebagian saja di antara mereka yang bisa melihatku).

Kesepuluh
Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan kemampuan tersebut hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.

Penutup

Iblis berkata: “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang. Aku hanya bisa membisikkan dan menggoda. Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun! Sebagaimana dirimu, kamu tidak dapat memberi hidayah sedikitpun. Engkau hanya Rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Bahkan engkau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara hidupnya.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Sementara orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya. Rasulullah Saw lalu membaca ayat:

“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati Allah” (QS Hud :118 - 119)
“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)

Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan tinta pena telah lama kering. Mahasuci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka jahanam. Aku ini si celaka yang terusir. Inilah yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.

---------------------
Sumber hadits diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a.

Judul Asli: Syajaratul Kaun dan Hikayah Iblis. Risalah Muhyiddin Ibnu al-'Arabi [Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Auladuh, 1360/1941].

Translated By: Wasmukan, Penerbit Risalah Gusti /Cetakan II, Mei 2001.